TUBAN — Ratusan Awak Mobil Tangki (AMT) di PT Pertamina Fuel Terminal TBBM Tuban melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk protes atas sejumlah persoalan internal perusahaan. Aksi itu dipicu dugaan intimidasi oleh petugas keamanan serta pemecatan dua pekerja oleh manajemen PT Cahaya Andhika Tamara (CAT). Jumat (10/4/2026).
Mogok kerja yang berlangsung sejak pagi ini membuat situasi di TBBM memanas. Para AMT yang menjadi tulang punggung distribusi bahan bakar itu menilai perusahaan tidak transparan dalam menyelesaikan persoalan hubungan industrial. Ketegangan pun meluas, dari persoalan internal menjadi gangguan distribusi energi yang berdampak langsung ke masyarakat.
Dampak aksi tersebut langsung terasa di lapangan. Sejumlah SPBU di Kabupaten Tuban terpaksa menghentikan layanan penjualan karena tidak mendapat pasokan dari TBBM. Di beberapa titik, antrean kendaraan tampak mengular sebelum akhirnya petugas SPBU memasang pengumuman “BBM habis”.
Hingga siang hari, tidak ada mobil tangki yang keluar dari terminal. Para pekerja memilih berhenti bekerja sembari menunggu respons perusahaan atas tuntutan mereka.
Dari pihak perusahaan, tidak ada satu pun pimpinan yang bersedia memberikan keterangan. Ketua Paguyuban AMT Tuban, Lumintu, Area Manager PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rehadi, serta Kapolsek Jenu, AKP Darwanto, sama-sama menolak menjawab pertanyaan media mengenai kronologi, tuntutan pekerja, maupun langkah penyelesaian.
Sikap bungkam ini menambah kabut ketidakjelasan mengenai akar persoalan, sekaligus memperkuat kesan bahwa manajemen berusaha menahan laju informasi di tengah memanasnya situasi pasca diterpa kelangkaan elpiji 3 kilogram.
Meski sempat dilakukan mediasi secara formal, namun konflik tersebut belum menemukan titik temu bahkan membuat situasi semakin tegang. Puluhan AMT menyatakan siap mendirikan tenda aksi di pintu masuk dan keluar TBBM, Desa Remen, Kecamatan Jenu, jika perusahaan tidak segera memenuhi tuntutan mereka.
Beberapa AMT menyebut persoalan yang terjadi bukan sekadar pemecatan dua rekan kerja, tetapi akumulasi masalah hubungan kerja, mulai dari dugaan tekanan petugas keamanan, ketidakjelasan perlindungan bagi pekerja, hingga mekanisme evaluasi kinerja yang dianggap tidak adil.
Aksi mogok AMT ini menyingkap kerentanan distribusi energi yang bergantung pada rantai kerja subkontraktor. Di sisi lain, persoalan industrial yang tidak transparan dan berlarut-larut dapat berdampak langsung pada hilangnya layanan publik, terutama sektor distribusi BBM yang kini menjadi kebutuhan pokok masyarakat. (Jun/Tgb).
