TUBAN – Peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) di Kabupaten Tuban diwarnai keluhan dari kalangan pengguna jalan. Alasannya, pengerjaan proyek rekonstruksi jalan di jalur Ring Road (Jalan Lingkar) hingga kini dinilai masih semrawut serta memicu kebingungan dan rasa cemas bagi para pengendara yang melintas.
Kondisi di lapangan menunjukkan penumpukan kendaraan masih sering terjadi, terutama di titik-titik penyempitan. Hal ini diperparah oleh banyaknya pengendara yang tidak memahami secara pasti skema pengalihan arus lalu lintas yang sedang berlaku.
Sejumlah warga dan sopir logistik mengeluhkan minimnya kejelasan informasi terkait status rute tersebut. Banyak warga mengaku bingung apakah jalan tersebut sebenarnya hanya diperuntukkan bagi satu jalur (satu arah) atau memang berlaku dua jalur.
”Sering bikin bingung dan cemas saat lewat. Sebenarnya ini satu jalur atau dua jalur, Kadang kita melintas, tiba-tiba dari arah berlawanan ada kendaraan besar. Jalurnya sempit, jadi sangat waswas takut tersenggol,” ungkap Tama, salah satu pengendara motor yang melintas.
Penutupan dan simulasi rekayasa lalu lintas di jalur Ring Road ini sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun. Pertimbangan adanya rekayasa ini sendiri didasari dengan banyaknya jalan rusak disana dan memerlukan perbaikan secepat mungkin.
Sebenarnya pada tahun 2025 lalu, Jalan yang melingkari selatan Kota Legen ini sudah diperbaiki dengan anggaran sedikitnya Rp4 miliar pada APBD tahun itu. Kemudian pada perubahan APBD diusulkan kembali dengan nominal sekitar Rp2 miliar.
Angka itu nampaknya juga belum membuat Jalur Ringroad mulus. Pada tahun ini, Pemkab Kota Seribu Goa ini kembali menggelontorkan anggaran sebesar Rp7,5 miliar. Anggaran itu untuk pengerjaan proyek fisik rekonstruksi jalan di tiga titik pengerjaan hingga akhir tahun mendatang.
Kanit Turjagwali Satlantas Polresta Tuban, IPDA Agus Eka menyampaikan bahwa dalam skema rekayasa resmi, kendaraan yang diperbolehkan melintas di jalur Ring Road sebenarnya hanya untuk arus dari arah Surabaya menuju Semarang.
“Rekayasa berlangsung sampai akhir tahun, satu paket tiga titik pengerjaan. Sebenarnya kendaraan yang boleh melintas hanya Surabaya ke Semarang saja. Arah Semarang melintasi Jalur Pantura,” jelas IPDA Agus Eka.
Ia menambahkan, potensi kepadatan lalu lintas paling rawan terjadi di persimpangan empat wilayah Kecamatan Semanding akibat adanya penyempitan ruas jalan dan peningkatan volume kendaraan.
“Rawan crowded di simpang empat wilayah Semanding, volume kendaraan tiap sore biasanya meningkat sehingga terjadi penumpukan,” imbuhnya.
Guna mengantisipasi penumpukan arus, pihak Satlantas Polresta Bumi Ronggolawe telah menerjunkan personel dari Unit Turjagwali di lapangan untuk melakukan langkah-langkah penanganan saat terjadi kemacetan.
“Kami juga telah menempatkan personel untuk melakukan upaya-upaya apabila ada kepadatan. Kami berharap Ring Road bisa segera selesai dan bisa dilalui kembali secara normal, sehingga lalu lintas kota bisa lebih aman,” pungkas IPDA Agus Eka. (Hus/Tgb).
