TUBAN – Proyek penanggulangan banjir senilai Rp9,7 miliar di Kali Lowok, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, kembali menjadi sorotan setelah banjir merendam permukiman warga Desa Sumurgung, Selasa (14/4/2026).

Infrastruktur berupa bronjong dan cek dam yang baru rampung akhir 2025 itu dinilai belum menjawab persoalan utama, bahkan memunculkan dugaan perencanaan yang lemah dan pembangunan yang terburu-buru.

Hujan deras di kawasan hulu, terutama Desa Maindu dan Bringin yang memiliki kontur perbukitan curam, kembali mengirim limpasan air ke Kali Lowok. Debit sungai naik cepat dan meluap ke rumah-rumah warga. Situasi itu memunculkan pertanyaan, jika proyek miliaran rupiah sudah dibangun, mengapa pola banjir masih berulang?

Kepala Desa Sumurgung, Ahmad Roziqin, mengakui pembangunan tersebut belum dapat dimaknai sebagai solusi tuntas. Menurut dia, proyek itu baru berfungsi mengurangi dampak banjir.

“Memang proyek ini untuk pengentasan banjir, tapi jangan dimaknai secara global. Artinya hanya mengurangi risiko dampaknya,” kata Roziqin, Kamis (15/4/2026).

Pernyataan itu justru menegaskan bahwa proyek yang menelan anggaran besar tersebut sejak awal tampaknya tidak dirancang sebagai penyelesaian permanen. Jika tujuan akhirnya hanya mengurangi risiko, publik berhak mempertanyakan mengapa narasi keberhasilan sempat dibangun seolah banjir akan selesai.

Warga menilai persoalan banjir di Sumurgung bukan sekadar aliran sungai yang perlu dipagari bronjong. Selama ini, banjir dipicu limpasan besar dari kawasan hulu, sedimentasi sungai, penyempitan alur air, hingga berkurangnya daerah resapan.

Jika akar persoalan berada di sistem hidrologi kawasan, maka pembangunan bronjong semata dianggap terlalu dangkal dan berpotensi salah desain.

Alih-alih menyelesaikan persoalan dari sumbernya, proyek justru terkesan fokus pada penanganan di titik hilir yang paling mudah terlihat secara fisik. Pendekatan seperti ini lazim dalam proyek infrastruktur, tampak bekerja, tetapi minim dampak jangka panjang.

Kritik lebih keras datang dari kalangan pemuda desa. Perwakilan pemuda Sumurgung, Shobihul Ma’arif, mengatakan warga telah meminta audiensi dengan pemerintah desa, namun belum mendapat respons.

“Kami sudah kirim surat permohonan audiensi untuk meminta pertanggungjawaban. Tapi sampai sekarang belum ada respons. Ini menunjukkan pemerintah desa seperti kehilangan arah,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah semestinya membuka data perencanaan proyek kepada publik: kajian teknis, simulasi debit air, target pengurangan banjir, hingga alasan memilih model bronjong dan cek dam.

“Jangan sampai proyek miliaran ini hanya jadi formalitas tanpa dampak nyata,” katanya.

Proyek Kali Lowok dikerjakan pada akhir Desember 2025 dan dalam waktu singkat sudah disebut efektif. Namun hanya beberapa bulan berselang, banjir kembali datang. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa proyek terlalu cepat dibangun dan terlalu cepat dipuji, sementara uji efektivitas di lapangan belum benar-benar terbukti.

Bersumber dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Tuban, proyek tersebut didanai dari APBD tahun 2025 dengan total nilai Rp9.723.750.000 dan dikerjakan oleh CV Cahaya Muda.

Adapun lingkup pengerjaan proyek itu merupakan mormalisasi sungai sepanjang 230 meter, check dam dua buah, pemasangan bronjong dengan 231 meter di sisi kanan dan 230 meter di sisi kiri, pemasangan u-ditch dengan panjang 111,6 meter, cover u-ditch sebanyak 77 buah, serta grill besi sebanyak 16 buah.

Dalam proyek pengendalian banjir, desain yang keliru bisa berakibat fatal, air hanya dialihkan, tekanan berpindah ke titik lain, atau kapasitas bangunan tak mampu menahan debit puncak saat hujan ekstrem. Jika itu yang terjadi di Kali Lowok, maka persoalannya bukan semata cuaca, melainkan kualitas perencanaan.

Dengan nilai yang fantastis itu, publik wajar menuntut hasil terukur. Berapa persen banjir berkurang? Kawasan mana yang aman? Seberapa kuat bangunan menahan debit ekstrem? Tanpa jawaban itu, proyek mudah dipersepsikan sebagai pembangunan fisik yang mengejar penyerapan anggaran, bukan penyelesaian masalah.

Bagi warga Sumurgung, banjir bukan sekadar genangan air. Ia adalah kerusakan rumah, hilangnya pendapatan, dan kecemasan yang berulang tiap musim hujan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar bronjong yang berdiri, tetapi desain yang bekerja.