() – Proses pembangunan Proyek Pabrik Pengelolaan Gas Sumber yang bakal berdiri di wilayah hukum Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban ternyata sedikit mengalami kendala.

Pasalnya, dua desa yakni Desa Sambonggede dan Desa Sumber, keduanya sama-sama masih memperdebatkan terkait pembagian pekerjaan sekaligus berkaitan dengan prosentase rekruitment tenaga kerja.

Sumur Gas Sumber sendiri diketahui masuk dalam Wilayah Kerja (WK) PT Pertamina Hulu Energi – Tuban East Java () menggantikan operator Minyak dan Gas Bumi (Migas), sebelumnya Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ).

Meskipun, proyek gas sumber yang dikelola oleh perusahaan PT Sumber Aneka Gas (SAG) tersebut rencananya berdiri di Desa Sambonggede, namun dampaknya diklaim lebih dekat dengan pemukiman warga Desa Sumber yang berada di sebelah utaranya.

Menanggapi terjadinya polemik yang melibatkan dua desa di wilayahnya, Forkopimca Kecamatan Merakurak lantas mengambil langkah cepat dengan mengundang kedua belah pihak yang bersangkutan, diantaranya Kepala Desa, BPD, LPMD, Karangan Taruna serta Tokoh Masyarakat, Senin (13/6/2022).

Kedua belah pihak yang berasal dari Desa Sumber dan Sambonggede dihadirkan di Polsek setempat guna dilaksanakan mediasi. Turut hadir dalam agenda tersebut perwakilan dari manajemen PT SAG.

“Dalam mediasi di Polsek sudah Kita fasilitasi kepentingannya, ternyata kedua Desa belum sepakat terkait prosentase kompensasi proyek gas PT SAG untuk dua Desa,” ungkap , M. Mustakim usai mediasi.

Penyerapan Naker Proyek Sumber Gas di Tuban Diperebutkan Dua Desa, SAG Ikuti Forkopimca
Camat Merakurak, M Mustakim saat ditemui di ruang kerjanya. 

Mantan Camat Bangilan itu menambahkan, jika di pertengahan tahun 2022 ini, pabrik pengolahan Gas Sumber di Desa Sambonggede mulai digarap oleh PT SAG. Sebelumnya Sumur 1 Sumber telah selesai dilakukan eksplorasi dan uji coba pengeboran produksi pada akhir tahun 2013 silam.

“Meskipun belum ada titik temu dalam mediasi tadi, yang jelas proyek ini tetap berjalan. Mudah-mudahan dengan berjalannya waktu masing-masing desa bisa mengerti dan saling memahami,” tambahnya.

Sementara, Bisnis Manager PT SAG, Andi Cahyo Nugroho mengungkapkan, bahwa kegiatan mediasi yang baru saja dilaksanakan belum ada kesepakatan lantaran kedua Pemerintah Desa punya pandangan yang berbeda terhadap prosentase pembagian pekerjaan di lapangan maupun penyerapan tenaga kerja yang digunakan.

Dimana Pemerintah Desa Sambonggede meminta prosentase penyerapan tenaga kerja dari Desanya sebesar 70 persen banding 30 persen, sedangkan dari pihak Pemerintah Desa Sumber meminta supaya dibagi rata, yakni 50 persen dibanding 50 persen.

“Mediasi hari ini belum ada titik temu, pada prinsipnya dari perusahaan mengikuti, mungkin setelah ini juga ada pertemuan lanjutan, apa yang jadi keputusan Forkopimca Kita ikuti,” ungkapnya.

Andi sapaan akrab Bisnis Manager PT SAG menjelaskan, bahwa saat ini proyek pengerjaan urugan dipegang sepenuhnya oleh PT SAG. Rencananya proyek seluas sekitar 7 hektar itu diproyeksikan mulai beroperasi di tahun 2023.

“Harapan Kita, hadirnya perusahaan (SAG) ini bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi semua pihak,” pungkasnya.

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS