TUBAN – Menjadi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) di Kabupaten Tuban ternyata butuh mental baja dan kesabaran ekstra. Bukan hanya soal bertaruh nyawa di tengah kobaran api, para personil Yudha Brama Jaya ini rupanya juga harus siap menjadi pendengar yang baik bagi warga yang sedang dilanda galau, bahkan urusan piutang.

Fenomena unik ini diungkapkan langsung oleh Plt Kepala Satpol PP dan Damkar Tuban, Sutaji. Kepada Ronggo.id, ia menceritakan bahwa nomor darurat Damkar seringkali berdering bukan karena ada asap membumbung, melainkan karena laporan warga yang di luar nalar tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) mereka.

“Kami banyak menerima permintaan unik. Salah satunya ada warga yang minta bantuan untuk menagih utang ke sesama warga. Ya, tetap kami tanggapi dengan kepala dingin, minimal koordinasi lewat pesan singkat,” ujar Sutaji sembari tertawa ngakak saat ditemui di kantornya, Kamis (7/5/2026).

Tak berhenti di situ, kantor Damkar pun mendadak berubah fungsi menjadi biro konsultasi gratis. Banyak warga yang menghubungi petugas hanya untuk menumpahkan keluh kesah kehidupan, mulai dari konflik keluarga hingga masalah pekerjaan. Meski terdengar nyeleneh, petugas tetap meladeni curhatan tersebut dengan santai sembari memberikan arahan positif.

Dibalik cerita-cerita menggelitik tersebut, Sutaji mengingatkan bahwa ancaman kebakaran di Bumi Wali masih cukup serius. Berdasarkan data per Januari hingga Mei 2026, tercatat sudah ada 22 kejadian kebakaran di Tuban. Angka ini hampir sama dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Wilayah Kecamatan Tuban dan Parengan menjadi zona merah dengan kasus tertinggi. Sektor permukiman mendominasi dengan 11 kasus, disusul sektor usaha dengan lima kasus, dan empat kasus terjadi di kandang ternak.

“Biang keroknya mayoritas adalah korsleting listrik. Banyak bangunan yang usianya sudah di atas 20 tahun tapi instalasi kabelnya tidak pernah diperiksa. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif, Sutaji mendorong pemerintah desa dan pelaku usaha untuk lebih melek proteksi dini. Ia menyarankan agar setiap desa setidaknya memiliki dua hingga tiga unit Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang dianggarkan melalui dana desa.

Menurutnya, kecepatan penanganan di menit-menit awal adalah kunci agar api tidak merembet menjadi bencana besar.

“Kebakaran itu hitungannya detik. Masyarakat perlu tahu, penggunaan APAR itu 10 kali lebih efektif dibandingkan menggunakan air secara manual. Kalau setiap desa punya APAR, api kecil bisa langsung padam sebelum tim kami sampai di lokasi,” jelas mantan Camat Bancar tersebut.

Ia juga mengimbau pemilik usaha untuk memastikan sistem proteksi seperti alarm, hidran, hingga sprinkler berfungsi normal.

Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan darurat atau ingin mendapatkan edukasi terkait kebencanaan, Damkar Tuban kini semakin terbuka melalui kanal media sosial di Instagram, Facebook, hingga YouTube.

“Selama kami bisa bantu, laporan apa pun akan kami terima dengan baik. Tapi yang utama, mari kita sama-sama waspada terhadap potensi kebakaran di lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (Hus/Tgb).