TUBAN – Tepat tiga bulan setelah ditemukannya ulat buah di menu Makan Bergizi Gratis (MBG) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo, kini dugaan kasus keracunan menimpa sejumlah siswi SMK Tambakboyo yang sempat menyantap makanan dari program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Sebelumnya, pada bulan Juli 2025 lali, di SPPG yang bermitra dengan SMK Tambakboyo juga ditemukan ulat sayur yang masih hidup di wadah makan siswa. Insiden itu sempat membuat para pelajar trauma hingga enggan kembali menyantap menu makanan yang disediakan.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan pada Selasa (14/10/2025) sore, setidaknya dari 3.120 siswa penerima manfaat dari SPPG tersebut, ada delapan siswi SMK Tambakboyo yang harus dilakukan perawatan di Puskesmas setempat.

Mereka dibawa menuju ke fasilitas kesehatan itu tak langsung bebarengan. Awalnya beberapa siswa dilarikan kesana setidaknya pukul 12.00 WIB yang kemudian disusuh siswa lain sekiranya pukul 14.00 WIB. Mereka semuanya diberikan infus dan beberapa diantaranya sudah bisa bercengkrama dengan keluarganya.

Salah satu pelajar jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) Kelas X, Ica mengatakan ia mengalami pusing, mual dan muntah setelah menyantap menu nasi goreng dengan lauk telur ceplok disertai dengan buah naga.

“Di nasi gorengnya tadi ada kayak lengket-lengketnya, jadi saya makan hanya setengah saja,” katanya sembari menahan lemas.

Senada, siswi lain Dewi Aprilia juga mengatakan hal yang sama. Ia juga mengalami pusing dan mual setelah menyantap menu makanan tersebut. Pihaknya mengaku nasi goreng yang ia santap juga ada lengket-lengketnya.

Menanggapi adanya polemik persoalan MBG di wilayahnya, Camat Tambakboyo, Ari Wibowo mengungkapkan saat ini pihaknya berfokus pada penanganan dan perawatan siswa terdampak. Saat ini, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam pendalaman.

“Jika memang ada faktor penyediaan MBG tentunya akan kami sampaikan evaluasi penyedia MBG kepada pihak yg mempunyai kewenangan untuk mengevaluasinya,” tegas Ari saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

Sementara itu, Danramil Tambakboyo, Kapten Arm. Teguh Haribowo berujar pihaknya awalnya mendapatkan laporan adanya dugaan delapan siswi yang keracunana setelah menyantap menu makan siang gratis dari SPPG Glondonggede itu.

“Setelah kami cek memang benar ada anak sekolah yang terindikasi dugaan keracunan makanan, untuk hasil pastinya masih menunggu hasil lab dari kesehatan,” tegas Teguh.

Pria yang sudah bertugas disana dari tahun 2018 itu menambahkan dari total siswa yang diduga mengalami keracunan itu, salah satunya sudah bisa dipulangkan. Sedangkan, untuk kondisi ketujuhnya juga dalam kondisi baik dan siap dipulangkan pada malam ini.

“Kemungkinan ini akan menjadi evaluasi daripada Badan Gizi Nasional (BGN). Mungkin ada juga kemungkinan untuk ditutup sementara,” pungkasnya.

Kasus dugaan keracunan di SMK Tambakboyo ini menjadi catatan serius bagi pelaksana program Makan Bergizi Gratis di Tuban. Setelah insiden ulat sayur yang sempat mencoreng pelaksanaannya beberapa bulan lalu, kejadian kali ini menegaskan masih adanya celah dalam pengawasan kualitas makanan.

Kini, publik menanti langkah tegas dari BGN dan pemerintah daerah, apakah sekadar evaluasi biasa, atau menjadi momentum untuk benar-benar memastikan program unggulan Presiden Prabowo itu tak lagi menimbulkan korban di meja makan para pelajar. (Hus/Tgb).