TUBAN – Dua pekan berlalu sejak enam siswa SMKN Palang dilarikan ke rumah sakit akibat diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun penyebab pasti insiden itu masih menjadi tanda tanya besar.
Meski hasil laboratorium telah keluar, penyidik Polres Tuban belum mengumumkan kesimpulan akhir atas peristiwa yang sempat mengguncang dunia pendidikan tersebut.
Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Dimas Robin Alexander, mengonfirmasi bahwa hasil uji dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Tuban dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim telah diterima. Namun, menurutnya, hasil tersebut masih perlu didalami lebih lanjut dan dikaitkan dengan observasi medis dari rumah sakit.
“Hasilnya sudah keluar, tapi masih perlu dijelaskan dan disinkronkan dengan hasil observasi medis dari RSUD dr. R. Koesma Tuban,” ujar Dimas, Selasa (15/10/2025).
Ia menambahkan, pihak kepolisian masih menunggu laporan resmi dari pihak medis untuk memastikan apakah ada hubungan langsung antara sampel makanan dan gejala yang dialami para siswa.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, Roikan*, belum memberikan keterangan detail mengenai hasil pemeriksaan medis tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kasus ini menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh penyelenggara dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kami sudah mengimbau seluruh SPPG agar segera mengurus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai syarat kelayakan dapur penyedia makanan,” tegas Roikan.
Insiden keracunan itu terjadi pada Rabu, 24 September 2025, ketika siswa SMKN Palang menerima menu MBG berupa nasi goreng, telur mata sapi, tahu, dua buah anggur, dan irisan timun.
Tak lama setelah menyantap hidangan tersebut, enam siswa terdiri dari lima perempuan dan satu laki-laki mengeluhkan mual, pusing, dan muntah darah. Mereka sempat dirawat di Puskesmas Palang sebelum dirujuk ke RSUD dr. R. Koesma Tuban.
Beberapa korban mengaku bahwa nasi goreng terasa asam dan berair. Bahkan setelah meminta pengganti, kondisi makanan baru yang diterima tetap serupa. Menu tersebut diketahui berasal dari dapur SPPG Yayasan Al Falah Gesikharjo, yang kini turut menjadi fokus penyelidikan aparat.
Dua pekan setelah insiden itu, kabut misteri masih menyelimuti penyebab keracunan. Apakah disebabkan oleh kelalaian higienitas penyedia makanan, kontaminasi bahan, atau faktor lain yang belum terungkap, semuanya masih menjadi spekulasi.
Namun yang pasti, kasus ini memantik perhatian publik terhadap kualitas pelaksanaan program MBG, terutama di daerah dengan sistem distribusi makanan yang kompleks dan melibatkan banyak pihak.
Ironisnya, kasus serupa kembali terjadi di Kecamatan Tambakboyo. Delapan siswi dilaporkan mengalami gejala serupa dan harus mendapat perawatan di Puskesmas setempat setelah menyantap menu MBG yang tak jauh berbeda dengan yang disajikan di SMKN Palang.
Rentetan kasus keracunan ini memperlihatkan adanya celah serius dalam pengawasan mutu program MBG. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya mengejar target distribusi, tetapi juga memastikan standar keamanan pangan benar-benar dijalankan di tingkat dapur penyedia. (Hus/Tgb).
