TUBAN – Tren kebakaran di Kabupaten Tuban sepanjang awal tahun 2026 mulai memicu alarm kewaspadaan. Walau secara total kasus mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya, Satpol PP dan Damkar Tuban menyoroti kemunculan titik api yang kian masif di sejumlah kecamatan.
Tercatat, sejak Januari hingga awal Mei 2026, telah terjadi 22 kasus kebakaran di Bumi Wali. Angka ini hanya selisih satu digit jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai 23 kejadian. Fluktuasi angka yang tipis ini menandakan bahwa ancaman si jago merah masih menjadi momok yang nyata bagi warga Tuban.
Dari data itu, menunjukkan bahwa sektor permukiman mendominasi total kejadian kebakaran dengan 11 kasus. Posisi berikutnya ditempati oleh sektor komersial atau tempat usaha dengan lima insiden, serta sektor peternakan yang mencatat empat kasus kebakaran pada kandang hewan.
Berdasarkan pemetaan kerawanan, Kecamatan Tuban Kota dan Kecamatan Parengan menjadi wilayah yang paling sering membara. Hingga awal Mei ini, kedua wilayah tersebut masing-masing telah mencatatkan empat kasus kebakaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP dan Damkar Tuban, Sutaji, menyatakan bahwa data ini bukan sekadar angka, melainkan peringatan keras bagi otoritas setempat dan warga. Menurutnya, karakteristik wilayah perkotaan yang padat serta aktivitas pemukiman di Parengan membutuhkan kewaspadaan ekstra.
“Empat kasus dalam waktu singkat ini merupakan alarm yang penting bagi dua kecamatan tersebut. Kami menekankan agar masyarakat di sana lebih peduli dan memiliki kesiapan tanggap darurat yang lebih mumpuni,” tegas Sutaji saat memberikan keterangan kepada Ronggo.id, Kamis (7/5/2026).
Sebagai langkah preventif, Sutaji mendorong pemerintah desa maupun kelurahan untuk mulai mandiri dalam mitigasi bencana kebakaran. Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah pengalokasian dana desa untuk pengadaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang ditempatkan di titik-titik strategis.
“Kebakaran itu hitungannya detik. Jika di setiap desa atau kelurahan memiliki APAR, api bisa segera dipadamkan sebelum merembet menjadi besar. Kami harap pihak desa mulai menganggarkan ini sebagai upaya dini pencegahan,” imbuhnya.
Selain faktor kesiapan sarana, faktor human error dan kelalaian teknis tetap menjadi penyebab dominan. Sutaji mengungkapkan, mayoritas kebakaran yang terjadi dipicu oleh korsleting atau arus pendek listrik. Ia mewanti-wanti masyarakat untuk tidak meremehkan kondisi instalasi listrik yang sudah tua atau kabel yang tidak standar.
Di tengah upaya optimalisasi pelayanan, Damkar Tuban masih menghadapi kendala klasik terkait jangkauan wilayah. Kecamatan Kenduruan menjadi wilayah yang paling sulit dijangkau dalam waktu cepat. Sutaji mengakui, standar response time 15 menit masih sulit dipenuhi untuk wilayah tersebut karena faktor jarak dan aksesibilitas.
“Untuk daerah lain di Tuban, kami perkirakan masih aman dan bisa dikejar dalam 15 menit sampai di lokasi. Namun untuk Kenduruan, estimasinya lebih dari itu. Ini yang terus kami evaluasi agar ke depan ada solusi supaya pelayanan bisa merata ke seluruh pelosok,” pungkas pria yang saat ini menjabat juga sebagai Kabid Damkar Tuban tersebut.
Keterlambatan respons di wilayah pinggiran seperti Kenduruan dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kerugian material yang lebih besar. Oleh karena itu, penguatan kapasitas relawan pemadam kebakaran di tingkat kecamatan dan desa menjadi salah satu solusi jangka panjang yang mendesak untuk segera direalisasikan. (Hus/Tgb).
