TUBAN – Lahan pertanian sawah seluas 630 hektar di Kabupaten Tuban dipastikan gagal panen, karena terdampak cuaca ekstrem menerjang wilayah setempat. Lahan ini tersebar di Kecamatan Rengel, Merakurak, Plumpang, dan Kecamatan Palang.

Tingginya curah hujan disertai angin kencang yang melanda daerah dengan 20 kecamatan ini, mengakibatkan lahan pertanian terendam banjir, dan batang padi roboh. Faktor alam ini yang menyebabkan kerugian petani.

Data BPS menyebut, luas panen padi di Tuban pada bulan Januari hingga April 2025 diproyeksikan seluas 49.059 hektar. Dari luasan itu produksinya diperkirakan sekitar 293.689 ton Gabah Kering Giling (GKG).

Petani asal Merakurak, Sarkam, mengatakan, padi yang seharusnya dua minggu lagi dapat dipanen harus terendam banjir akibat hujan lebat yang tak berhenti melanda di wilayahnya. Akibatnya, ia harus mengalami kerugian.

“Habis, Mas, ini saya coba selamatkan padi sebisanya meski kurang dua minggu lagi dipanen,” keluh Sarkam.

Nasib serupa dialami, Yanto, petani dari Rengel. Pada awal tahun 2025 ini tak bisa menanam padi, karena luapan sungai Bengawan Solo merendam sawah.

“Akhir-akhir ini hujan terus, Mas, Bengawan meluap seperti ini, kalau seperti ini tidak bisa icir (menanam) padi,” tambahnya saat ditemui waktu luapan Bengawan Solo melanda sawahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Tuban, Eko Julianto, menjelaskan, pada bulan Maret proyeksi panen di Kota Tuwak ini mencapai 22.976 hektar.

“Di Kecamatan Rengel itu ada sekitar 500 hektar lahan yang gagal tanam akibat banjir dari luapan Bengawan Solo,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (21/3/2025).

Menurut Eko, diperkirakan terdapat lahan seluas 630 hektar yang gagal panen, maupun gagal tanam akibat terendam banjir. Rinciannya, seluas 500 hektar lahan gagal tanam akibat banjir di Kecamatan Rengel, seluas 98 hektar gagal panen di Kecamatan Merakurak, seluas 25 hektar di Kecamatan Plumpang, dan tujuh hektar di Kecamatan Palang.

“Untuk wilayah Kecamatan Kerek yang roboh-roboh itu masih bisa dipanen,” tambahnya.

Eko mengimbau para petani, agar selalu berkoordinasi maupun konsultasi dengan penyuluh pertanian di wilayah masing-masing. Selain itu, para petani juga dihimbau untuk selalu memantau perkembangan cuaca di BMKG untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan akibat cuaca buruk. (Hus/Tgb).