TUBAN – Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban geruduk kantor Bupati setempat. Aksi itu dilakukan buntut adanya kebijakan penataan Parkiran Boom yang disebut menyingkirkan rakyat kecil dari ruang hidupnya.
Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh ratusan PKL yang dulunya menggantungkan hidupnya dari berjualan di sekitar Alun-alun Kota dipindah menuju parkiran Pantai Boom. Sontak hak itu langsung membuat pendapat mereka bak terjun bebas bagaikan masuk kedalam jurang.
Dari informasi yang dihimpun di lapangan, para pedagang tersebut sebelum dipindahkan, hasil kotor dari penjualan perharinya dapat mencapai hingga Rp1,5 juta rupiah. Angka yang terbilang cukup fantastis itu kini berubah hanya menjadi Rp10 ribu bahkan menyentuh angka Rp100 ribu itu sulit.
Dalam aksi demonstrasi tersebut, ratusan peserta datang berjalan kaki dari parkiran Pantai Boom yang berdekatan dengan tempat kerja Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky itu. Beberapa diantaranya datang sembari membawa gerobaknya.
Para mahasiswa dan PKL berganti-gantian berorasi sembari meminta untuk ditemui oleh Lindra, sapaan akrab Bupati Tuban. Ditengah-tengah aksi itu salah satu pedagang pentol membagi-bagikan dagangan secara percuma.
“Bagi-bagi pentol ini bentuk protes kita, Mas, selain itu saya muak dagangan tak pernah terjual, daripada saya buang mending saya bagikan hitung-hitung sedekah,” kata pedagang yang tak mau disebut namanya tersebut.
Ketua PMII Tuban, Ahmad Wafa Amrillah mengatakan aksi itu dilakukan karena dalam 10 bulan ini, para PKL merasa ditelantarkan. Mereka menuntut untuk dikembalikan berjualan disekitar alun-alun kembali.
“Dari respon yang mewakili Bupati masih belum memberikan kepastian, Bupati sendiri masih kekeh untuk tetap steril dari PKL,” ujar Ahmad Wafa setelah aksi selesai pada Selasa (7/10/2025).
Wafa sapaan akrabnya menambahkan dalam aksi yang dilakukannya siang tadi masih belum menemui titik terang sama sekali. Hal itu yang membuat nya geram dan mengancam melakukan gerakan-gerakan lain hingga menemukan solusi yang tepat.
“Yang pasti kita akan mengawal sampai haknya temen-temen PKL ini terpenuhi,” tambahnya.
Pihaknya melanjutkan teman-teman dari PKL juga mengancam akan memaksa berjualan kembali di sekitar Alun-alun seperti yang dulu. Hal itu juga merupakan bentuk protes yang nyata terhadap kebijakan Mas Bupati yang dinilai menyengsengsarakan rakyat.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, Agus Wijaya mengungkapkan pihaknya menyadari betul permintaan para PKL itu. Namun, pihaknya masih terbentur dengan penataan di lokasi tersebut.
“Memang keliatan seperti belum siap ya di lokasi Boom itu, tapi dari PKL itu juga terlihat belum siap berjualan. Dalam arti mereka menjual produk yang sama, sehingga kurang menarik bagi pengunjung,” tambah Agus.
Mantan Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban ini meminta kepada PKL untuk tetap tak berjualan di kawasan Alun-alun. Karena menurutnya dapat kembali semrawut seperti yang dulu.
“Kalau memaksa untuk berjualan lagi, mungkin teman-teman tim penertiban akan melakukan kewajibannya. Tetap kita berupaya untuk membuat mereka bagus lah,” pungkasnya. (Hus/Tgb).
