TUBAN – Dulu, namanya harum sampai ke luar kota. Kolam Renang Bektiharjo, salah satu ikon wisata air tertua di Kabupaten Tuban, kini tinggal bayang-bayang kejayaan masa lalu. Wahana yang konon telah ada sejak abad ke-13, kala bangsawan setempat menjadikannya tempat pemandian, kini justru tampak sunyi, kusam, dan nyaris terlupakan.
“Biasanya ramai pas akhir pekan, tapi sekarang sepi. Gak serame dulu,” ujar Jatmiko, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, Selasa (21/10/2025).
Bau lembap dan lumut di sisi kolam seolah menjadi penanda waktu yang berhenti. Dinding bangunan terlihat kusam, beberapa bagian retak, bahkan di sebelah utara kolam utama tampak lubang besar menganga, cukup dalam untuk membahayakan pengunjung yang tak waspada.
“Lubangnya dalam banget, harusnya cepat diperbaiki,” tambah Jatmiko.
Arif Budianto, warga setempat mengaku prihatin. Ia masih ingat masa ketika kolam itu menjadi primadona wisata keluarga di Tuban.
Warga hanya berharap agar janji pembangunan pemandian Bektiharjo tak hanya dijadikan wacana, namun benar-benar diselamatkan dari kelalaian sejarah. Sebab bagi sebagian orang Tuban, Bektiharjo bukan sekadar kolam renang, tapi cermin memori masa silam yang kian suram.
“Dulu tempat ini kebanggaan. Sekarang dibiarkan rusak, sayang banget,” ujarnya.
Kondisi itu pun menjadi sorotan publik, terlebih kolam ini merupakan aset pemerintah daerah. Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, Mohammad Emawan Putra, mengatakan, lubang tersebut diduga akibat dinding saluran pembuangan air kolam kecil yang terkikis hingga runtuh.
“Kami masih melakukan pengecekan. Sementara ini sudah kami pasang pembatas agar tidak ada pengunjung yang melintas di area itu,” jelas Emawan, Rabu (22/10/2025).
Sementara itu, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, akrab disapa Mas Lindra menyebut bahwa pemerintah daerah sebenarnya sudah menaruh perhatian pada perbaikan fasilitas olahraga air di Bektiharjo. Namun, hingga kini, Pemkab masih melakukan komunikasi dengan pemerintah desa terkait kepemilikan lahan.
“Dulu kami sudah berencana membangun sarana olahraga air di Bektiharjo, tapi kepemilikan lahan masih perlu kami bicarakan dengan pihak desa,” ujar Lindra kepada awak media.
Menurutnya, rencana tersebut juga bagian dari persiapan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) agar Tuban siap menjadi tuan rumah.
“Kami ingin membangun kolam renang berstandar internasional. Kalau di Bektiharjo belum memungkinkan, alternatifnya bisa di kawasan Pantai Boom,” katanya.
Mas Lindra memastikan tidak ada kendala serius antara pemerintah kabupaten dan pemerintah desa. Ia menegaskan, kedua pihak sama-sama menginginkan agar kolam legendaris Bektiharjo kembali hidup dan berdaya guna.
Kandati begitu, hingga kini, komunikasi tentang kejelasan status lahan masih berjalan tanpa keputusan pasti. (Hus/Tgb).
