TUBAN Praktik pembuangan limbah cucian pasir kuarsa yang tidak terkendali ke aliran sungai dan laut di wilayah Tuban memicu kekhawatiran serius dari kalangan akademisi. Pembuangan limbah yang dilakukan secara ugal-ugalan ini dinilai bukan sekadar masalah estetika lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan ekosistem perairan.

Data lapangan menunjukkan kondisi mengkhawatirkan. Di Kecamatan Jenu, khususnya Desa Beji, aliran sungai berubah warna menjadi cokelat pekat hingga putih susu akibat endapan lumpur. Dampaknya, terjadi pendangkalan di muara yang menyulitkan nelayan tradisional menyandarkan perahu serta petani yang sawahnya mudah kebanjiran saat hujan datang.

Tak hanya di Jenu, aksi protes serupa juga pecah di Desa Bogorejo, Kecamatan Bancar. Warga setempat mengeluhkan aktivitas cucian pasir yang dituding mencemari tambak warga hingga merembes ke laut. Bahkan, ceceran limbah di jalanan membuat jalur pantura menjadi licin dan membahayakan pengguna jalan.

Sementara di Kecamatan Tambakboyo, warga Desa Gadon juga menyuarakan keresahan serupa. Air limbah yang dibuang tanpa melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai mengalir bebas melalui saluran air menuju kawasan pesisir.

Dosen Ilmu Perikanan dari Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, Prof. Marita Ika Joesidawati, menegaskan bahwa limbah kuarsa yang kotor dapat menyebabkan pendangkalan hebat (sedimentasi) yang merusak habitat alami biota laut.

“Pembuangan limbah sembarangan ini selain memicu pendangkalan, juga merusak ekosistem. Ikan-ikan bisa bermigrasi karena lingkungan aslinya tercemar, dan ini mengancam rantai makanan kita,” ujar Prof. Marita saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (12/5/2026).

Menurut Prof. Marita, indikator utama untuk mengukur tingkat bahaya pencemaran di dasar perairan adalah kondisi Bentos. Sebagai organisme yang hidup di sedimen dasar laut, keberadaan Bentos menjadi cermin kesehatan lingkungan perairan tersebut.

Bentos sendiri merupakan komunitas organisme, baik hewan maupun tumbuhan, yang hidup di atas, di dalam, atau di dekat sedimen dasar perairan, mulai dari pesisir hingga laut dalam.

Salah satu biota yang paling terancam adalah kelompok Bivalvia (kerang-kerangan). Meski pasir kuarsa dibutuhkan dalam siklus hidupnya, namun volume yang berlebihan justru akan menjadi senjata makan tuan.

“Pasir kuarsa itu memang dibutuhkan bivalvia, tapi dalam batas wajar. Kalau (volumenya) ugal-ugalan dan berlebihan, justru mengancam dan bisa membunuh bivalvia tersebut,” imbuhnya memperingatkan.

Guru besar dari Unirow Tuban ini juga mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban untuk melakukan uji kualitas air secara berkala dan memantau pergerakan sedimen secara ketat.

Sebagai bentuk komitmen akademisi Unirow ini menyatakan siap menyodorkan bukti-bukti penelitian ilmiah kepada dinas terkait untuk menjadi dasar kajian teknis pengolahan limbah.

“Kami siap memberikan hasil penelitian untuk bahan kajian. Tujuannya jelas, agar pengelolaan industri tidak mengorbankan nelayan, petani tambak, dan lingkungan sekitar,” pungkas wanita yang saat ini masih terus aktif mengajar mahasiswa Ilmu Perikanan ini. (Hus/Tgb).