TUBANKomunitas Ojek Online (Ojol) di Tuban menggelar aksi doa bersama dan tabur bunga pada Rabu (13/5/2026) malam sebagai bentuk solidaritas atas meninggalnya rekan mereka, M. Iqbal Firmansyah, yang menjadi korban kecelakaan akibat gundukan aspal bekas galian pipa untuk penunjang proyek Sekolah Rakyat (SR).

Sekitar pukul 18.30 WIB, Jalan Letda Sucipto di Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, mulai dipadati oleh ratusan pengemudi ojek online. Mereka datang berbondong-bondong untuk berkumpul di lokasi yang menjadi saksi bisu kecelakaan maut yang menimpa rekan sejawat mereka.

Tujuan utama kehadiran massa ini adalah untuk memanjatkan doa bersama bagi almarhum yang telah berpulang pada Senin (11/5/2026) tengah malam lalu. Sedikitnya 170 pengemudi ojol terlibat dalam aksi ini, di mana mereka menunjukkan loyalitas tinggi dengan rela meninggalkan pekerjaan serta pendapatan harian mereka demi solidaritas sesama pejuang jalanan.

Suasana di lokasi terasa sangat emosional dan diselimuti duka mendalam yang terpancar dari raut wajah para peserta aksi. Kehilangan sosok rekan seperjuangan meninggalkan luka yang nyata bagi komunitas tersebut, sehingga doa bersama ini menjadi bentuk penghormatan terakhir yang penuh khidmat.

Koordinator Aksi, Nanang Sasmito menyebut aksi tabur bunga tersebut dilakukan di dua titik lokasi. Titik pertama dilakukan tepat di lokasi gundukan aspal yang kini telah disulap kembali menjadi rata, bak gundukan tersebut tak pernah ada.

“Aksi tabur bunga kemudian dilanjutkan du titik korban terkapar, dan kami juga lantunkan doa kepada almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah,” kata Nanang usai acara berlangsung.

Nanang menyatakan bahwa rencana aksi lanjutan masih ditangguhkan guna menghormati pihak keluarga yang tengah berduka, mengingat mereka masih sangat terpukul atas kehilangan sosok tulang punggung keluarga tersebut.

Meski begitu apabila keinginan dari keluarga korban tak kunjung dipenuhi, maka tak bisa dipungkiri aksi yang lain yang lebih dari ini memungkinkan untuk terjadi.

“Kami pasti akan dampingi terus sampai ada keputusan yang dinilai cukup adil oleh keluarga korban,” lanjutnya.

Sementara itu, sepupu korban, Mujiono mengaku memang pihak pengelola proyek SR, PT Waskita Karya dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lestari Tuban telah memberikan kompensasi, namun hal itu tak berarti dengan hilangnya nyawa sepupunya itu.

“Kalau nyawa kan tidak bisa ditukar dengan uang, saya kira nyawa siapapun tak bisa dibayar dengan uang,” kata Mujiono.

Ia tak menampik bahwa telah ada itikad baik dari pihak PT Waskita Karya maupun PDAM dengan datang kerumah dan memberikan uang kompensasi. Namun, kompensasi Rp20 juta yang diberikan tak sebanding dengan harga satu nyawa melayang.

Karena hal itu, Mujiono mengaku masih terus akan berkoordinasi dengan para rekan-rekan ojol untuk melakukan langkah kedepannya. Ia juga mengultimatum pihak terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan ini agar tak berlarut-larut hingga laporan kepada pihak berwajib. “Bukan tak mungkin adanya laporan kepada kepolisian,” tutupnya.

Hingga saat ini, komunitas ojol di Tuban masih menunggu langkah konkret dari pihak pengelola proyek. Mereka mengancam akan membawa kasus ini ke ranah hukum jika tuntutan keadilan bagi almarhum tidak segera dipenuhi secara serius. (Hus/Tgb).