TUBAN – Ratusan umat Katolik di Kabupaten Tuban memadati Gereja Katolik Santo Petrus untuk memperingati Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus, Kamis (14/5/2026). Momentum sakral ini menjadi ajang refleksi bagi jemaat untuk memperkuat peran mereka sebagai pembawa damai di tengah masyarakat Bumi Wali.
Ibadah yang dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, Romo Stefanus Cholik Kurniadi, berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Sejak pukul 07.00 WIB hingga sesi petang pukul 18.30 WIB, sekitar 300 jemaat tampak larut dalam doa, meresapi esensi perayaan tanpa seremoni tambahan yang berlebihan.
Dalam pesan pastoralnya, Romo Cholik menekankan bahwa Kenaikan Yesus ke Surga bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan mandat bagi umat untuk menjadi “saksi hidup” di dunia nyata. Ia mengutip pesan mendalam dari Surat Yakobus 2:26 sebagai pengingat keras bagi jemaat.
“Iman tanpa perbuatan adalah mati. Merayakan Kenaikan Tuhan berarti kita siap mewartakan kasih Allah melalui tindakan nyata, bukan hanya sekadar kata-kata,” tegas Romo Cholik saat ditemui usai misa pagi.
Romo Cholik mengajak umat Katolik di Kota Legen ini untuk mampu menjadi sumber keteduhan di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Menurutnya, kesaksian iman yang paling kuat justru muncul dari interaksi sosial sehari-hari, seperti kejujuran, kepedulian terhadap tetangga, dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di level RT/RW.
Menurutnya, ada beberapa poin penting yang harus ditekankan, yakni; membangun hubungan harmonis dengan sesama tanpa memandang perbedaan keyakinan, berbagi beban dengan warga yang membutuhkan dan aktif dalam kerja sosial, serta menunjukkan sikap pemaaf dan menebar sukacita dalam setiap interaksi.
Meski digelar secara sederhana tanpa dekorasi yang mencolok, aura spiritualitas di Gereja Santo Petrus tetap terasa kuat. Hal ini sengaja dilakukan agar umat bisa fokus sepenuhnya pada makna murni dari ibadah tersebut.
Romo Cholik berharap, setelah keluar dari pintu gereja, jemaat tidak hanya membawa berkat untuk diri sendiri, tetapi juga membawa semangat perubahan bagi lingkungan sekitarnya.
“Keluar dari sini, jemaat diharapkan menjadi pribadi yang lebih pemaaf dan konsisten dalam merajut persaudaraan antar warga negara,” pungkasnya. (Hus/Tgb).
