TUBAN – Sektor pariwisata di Bumi Wali mengawali tahun 2026 dengan tantangan besar. Cuaca yang sulit diprediksi belakangan ini membuat angka kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi unggulan di Kabupaten Tuban bergerak fluktuatif.

Di Pantai Kelapa misalnya, meski dihantui mendung, momen akhir pekan tetap menjadi tumpuan. Pada hari kerja, kunjungan berada di angka 50 hingga 100 orang. Angka ini melonjak tajam pada akhir pekan sekitar 200 hingga 500 pengunjung.

Berbeda saat liburan panjang, Pada hari Sabtu, pengunjung bisa mencapai 500-1.000 orang, sementara puncaknya pada hari Minggu menyentuh angka 1.500 hingga 2.000 orang.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Kelapa, Muhasan, mengakui jika faktor alam kini menjadi penentu utama dapur pelaku wisata mengepul. Curah hujan yang tinggi disebutnya mampu memangkas angka kunjungan secara drastis dalam sekejap.

“Kalau sudah hujan, penurunan (pengunjung,Red) bisa sampai 50 persen. Wisatawan lebih banyak memilih berteduh di warung dan baru keluar ke pantai kalau hujan sudah reda,” ungkap Muhasan saat ditemui Ronggo.id di Pantai Kelapa Tuban, Minggu (18/1/2026).

Menariknya, Muhasan menyebut wisatawan luar kota biasanya tetap nekat datang meski cuaca ekstrem karena Pantai Kelapa sudah masuk dalam daftar perjalanan mereka.

Ia menggarisbawahi bahwa tidak semua tanggal merah menghasilkan kunjungan yang seragam. Sebagai contoh, momen Isra Mikraj tahun ini tidak seramai libur Natal atau libur nasional lainnya.

“Wisatawan luar kota yang sudah menjadwalkan kunjungan biasanya tetap datang meski hujan. Bagi mereka, Pantai Kelapa sudah jadi tujuan utama maupun tempat mampir yang ikonik saat berziarah ke makam wali di Tuban,” tambahnya.

Sebagai upaya pencegahan, pihak pengelola secara berkelanjutan mengimbau pengunjung agar membawa perlengkapan pribadi seperti payung, jas hujan, dan jaket. Selain itu, demi menjaga keselamatan, wisatawan tidak diperkenankan berenang di laut saat cuaca buruk dan dialihkan untuk menggunakan fasilitas kolam renang yang disediakan pengelola.

Kondisi serupa juga menyelimuti Wisata Silowo di Desa Merakurak. Ketua Pokdarwis setempat, Maliki menyebut tren awal tahun 2026 ini justru lebih sepi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 lalu.

“Kalau cuaca cerah saat long weekend, kita bisa tembus 200 sampai 300 orang. Tapi kalau hujan ya merosot separuhnya,” keluh Maliki.

Meski cuaca sedang tidak bersahabat, wisatawan asal Bojonegoro, Blora, Lamongan, dan Gresik tetap menjadikan Silowo sebagai jujukan utama saat berada di Tuban. Loyalitas pengunjung dari luar daerah ini menjadi secercah harapan bagi pengelola agar tingkat kunjungan tetap stabil di tengah ketidakpastian iklim awal tahun ini.

Saat ini, para pengelola wisata di Tuban hanya bisa berharap kondisi cuaca segera membaik. Terlebih, memasuki musim ziarah nanti, diharapkan ada angin segar bagi peningkatan kunjungan wisatawan di Bumi Ranggalawe. (Hus/Tgb).