TUBAN – Saat banyak ruang budaya tersisih oleh gempuran digital, Museum Kambang Putih Tuban justru kembali menemukan napasnya. Di antara bau kayu tua dan artefak berdebu, langkah-langkah kecil para pelajar terus menghidupkan sejarah kota yang berjuluk Bumi Ranggalawe ini.
Setiap pekan, anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan datang berbondong-bondong ke museum tersebut. Rombongan anak-anak TK, siswa SD, hingga pelajar SMP dan SMA datang tak hanya berekreasi tetapi juga belajar sejarah Tuban.
Mereka datang karena agenda rutin yang memang sudah dicanangkan oleh Dinas Pendidikan setempat. Tujuannya, sejarah kota dengan luas 1.904,72 km² tak pernah dilupakan oleh generasi penerus.
Di dalam museum dengan cat warna putih itu setidaknya menyimpan 5.774 koleksi yang dihimpun sejak tahun 1984 saat museum masih berada di pendopo kabupaten. Penempatan museum baru dipindah pada 1996 silam agar semakin mudah dijangkau.
Salah satu pengelola museum, Gilang Winarno mengungkapkan sejak 2019 museum telah bekerja sama dengan kementerian melalui program DAK. Kolaborasi tersebut menjadi penopang berbagai agenda edukasi yang rutin digelar tiap tahun.
“Ada program Belajar Bersama Museum, Kajian Koleksi untuk mahasiswa, sampai pameran dan lomba. Itu supaya museum tetap hidup dan dekat dengan masyarakat,” tuturnya.
Meski begitu, Gilang tak menampik bahwa dukungan pemerintah masih jauh dari kata ideal. Minimnya SDM membuat pengelolaan museum kerap terseok, terutama ketika ada pameran yang membutuhkan persiapan ekstra.
Menariknya, Museum Kambang Putih ini mencuri perhatian kurator mancanegara karena ribuan koleksi didalamnya. Bahkan ada kurator dari Australia yang datang hanya untuk berbagi ilmu dengan staf museum.
“Peneliti dari Prancis hingga Inggris juga sempat melakukan riset, termasuk studi terkait situs Watu Tiban dan Kalpataru,” ungkap Gilang.
Untuk menjaga keberlanjutan museum, berbagai program kreatif digelar secara berkala. Rangkaian program seperti belajar para siswa hingga lomba koleksi menjadi upaya museum agar tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda tua, tetapi menjadi ruang belajar yang hidup, interaktif, dan dekat dengan generasi muda.
Gilang berharap pemerintah memberikan perhatian lebih. Dengan ribuan koleksi dan rekam sejarah yang kaya, Museum Kambang Putih layak menjadi pusat edukasi yang lebih diperhatikan.
“Museum ini rumah sejarahnya Tuban. Harapannya bisa terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Hus/Tgb).
