TUBAN – Siapa sangka, kemegahan Masjid Bawah Tanah Aschabul Kahfi di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban, dulunya merupakan lokasi yang dipandang sebelah mata. Sebelum menjadi magnet wisata religi seperti sekarang, area gua alami ini merupakan tempat pembuangan sampah (TPS).

Transformasi luar biasa ini diinisiasi oleh KH. Subkhan Al Mubarok pada tahun 2002. Kala itu, lokasi yang kini menjadi bagian dari Pondok Pesantren Perut Bumi Al-Maghribi tersebut dipenuhi tumpukan sampah selama bertahun-tahun.

“Dulu ini tempat sampah. Proses pembersihannya saja memakan waktu sekitar 18 bulan,” kata Pengurus sekaligus menantu sang kyai, Ramadanu saat ditemui dilokasi Masjid.

Sampah-sampah itu tidak dibakar, tapi dipindahkan secara manual ke bagian belakang gua. Alasan sampah itu tak dibakar sendiri sebagai pengingat atas perjuangan dalam mendirikan masjid.

Setelah area gua bersih dari aroma tidak sedap, pembangunan fisik mulai menyentuh perut bumi. Uniknya, pembangunan masjid ini tidak menggunakan alat berat, melainkan dilakukan secara bertahap selama kurang lebih 12 tahun.

Satu per satu ornamen mulai menghiasi dinding gua, termasuk replika Ka’bah yang menjadi titik awal pembangunan di dalam kompleks masjid. Pendanaannya pun murni mengandalkan kantong pribadi sang kiai serta sedekah dari para jemaah.

Memasuki area masjid, pengunjung akan disambut suasana sejuk nan tenang. Dengan tiket masuk Rp10.000, peziarah bisa turun ke ruang utama yang berada di bawah tanah untuk melakukan doa bersama atau tahlil.

Disana selain Masjid unik yang terletak dibawah tanah, disana juga terdapat sumur sedalam 68 meter. Sumur itu digali bertahun-tahun dan diyakini sebagian peziarah memiliki khasiat sebagai wasilah penyembuhan. Selain itu, ada Petilasan Tokoh, seperti Singo Joyo, Putri Ayu Sendang Harjo, hingga Syekh Maulana Al Maghribi.

Popularitas masjid yang menyatu dengan stalaktit ini telah menjangkau luar Jawa Timur. Saat memasuki bulan-bulan sakral seperti Rajab atau Suro, ratusan peziarah dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat tumpah ruah di sini.

“Biasanya setelah tahlil, jemaah mendapat penjelasan sejarah. Ada juga yang mengambil beras kuning rukyah dan kacang hijau sebagai oleh-oleh keberkahan,” imbuh Danu.

Kini, tempat yang dulunya kotor dan diabaikan itu telah berubah menjadi pusat peradaban santri. Di atas gua, berdiri Pesantren Perut Bumi yang mendidik puluhan santri dari berbagai penjuru nusantara, membuktikan bahwa tempat paling kumuh sekalipun bisa berubah menjadi taman surga jika dikelola dengan ketulusan hati. (Hus/Tgb).