TUBAN — Kelangkaan elpiji 3 kilogram di wilayah perkotaan Kabupaten Tuban mulai menunjukkan perbaikan setelah PT Pertamina Patra Niaga, Pemerintah Kabupaten Tuban, DPRD, dan aparat kepolisian turun langsung mengurai persoalan distribusi. Namun pemulihan itu belum merata. Di sejumlah kecamatan, warga masih kesulitan mendapatkan gas melon yang menjadi kebutuhan dasar rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Hartati (38), warga Kecamatan Merakurak, masih harus berkeliling toko dan agen untuk mendapatkan tabung gas bersubsidi tersebut.
“Katanya dari berita berita itu sudah ada tambahan elpiji, tapi di sini masih sulit dan tetap harus antre,” keluh kepada Ronggo.id, Rabu (9/4/2026).
Di Kecamatan Plumpang, kondisi tak jauh berbeda. Khoiruliyah menyebut kelangkaan yang telah berlangsung sepekan terakhir belum benar-benar pulih. Agar dapur tetap mengepul, ia bahkan terpaksa kembali menggunakan ‘pawon’ atau tungku kayu untuk memasak.
“Sudah dua hari kemarin ini tidak dapat gas. Terpaksa balik pakai pawon. Mudah-mudahan setelah ini elpiji kembali lancar,” terangnya.
Melihat situasi yang belum merata, Ketua Komisi III DPRD Tuban, Tulus Setyo Utomo, meminta Pertamina Patra Niaga menambah suplai elpiji 3 kilogram ke seluruh wilayah, tidak hanya ke pusat kota. Ia menilai, lonjakan konsumsi pascalebaran memang tidak terhindarkan, tetapi pola penyimpanan stok di tingkat rumah tangga turut memperpanjang tekanan distribusi.
“Kami turun langsung untuk megecek kelangkaan gas elpiji ini. Sebelum dan setelah lebaran konsumsi meningkat, tapi banyak warga kini menyimpan lebih dari satu tabung sebagai stok. Ini yang harus kita urai dalam distribusi,” katanya.
Tulus mengingatkan pentingnya penerapan ketentuan identitas pembelian (NIK) dan penegakan Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat pangkalan. Menurutnya, harga yang melonjak di atas Rp22 ribu di kios-kios pengecer menunjukkan adanya celah pengawasan yang harus ditutup.
“Harga seharusnya Rp18 ribu. Kalau sudah tembus di atas Rp22 ribu, jelas tidak wajar. Pertamina, agen, dan pangkalan harus menekan pengecer agar harga tidak dimainkan,” tegas pria yang juga sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan.
Setelah antrean di kawasan kota mulai terurai, DPRD meminta Pertamina segera melakukan suplai tambahan ke seluruh pangkalan di tingkat kecamatan dan desa. Distribusi hingga wilayah perbatasan dinilai penting untuk mencegah munculnya kembali kepanikan dan aksi pembelian berlebihan (panic buying).
“Di kota sudah aman, antrean tidak ada. Tapi di kecamatan masih banyak yang kesulitan. Kami minta dan menghimbau Pertamina segera mempercepat distribusi dan masyarakat juga perlu tetap tenang dan tidak panik,” pungkasnya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga telah menambah suplay elpiji 3 Kg sebanyak 25.760 tabung, atau naik lebih dari 49 persen dibanding konsumsi normal untuk kebutuhan masyarakat, khususnya di Kabupaten Tuban. (Jun/Tgb).
