TUBAN – Sepanjang tahun 2025, Kabupaten Tuban dibayangi ledakan kasus demam berdarah dengue (DBD). Genangan air yang menyebar di berbagai sudut kawasan berubah menjadi sarang ideal Aedes aegypti dan memicu peningkatan tajam jumlah penderita.

Bersumber dari laman resmi milik Pemkab Tuban, tercatat pada tahun 2023 sendiri ada setidaknya 203 kasus yang tercatat. Kemudian angka tersebut naik tiga kali lipatnya di tahun berikutnya menjadi 762 kasus. Bukannya menurun, angka itu justr kembali naik menjadi 803 kasus di tahun ini.

Menanggapi perihal terus naiknya kasus DBD di Bumi Ranggalawe ini, Plt Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB), Roikan menyebut hal tersebut merupakan alarm kewaspadaan bagi masyarakat.

Menurutnya, curah hujan yang mulai rutin turun otomatis memperbesar risiko jentik nyamuk bermunculan. Meski begitu, Roikan meminta warga tidak panik dan tetap berkoordinasi dengan tenaga kesehatan terdekat.

“Di desa-desa bisa langsung menghubungi pihak desa untuk ,” jelas Roikan.

Ia menekankan penegakan diagnosis DBD harus melalui pemeriksaan laboratorium. “Jika panas disertai trombosit turun, itu indikasi kuat DBD,” tambahnya.

Apabila ditemukan kasus di lingkungan warga, masyarakat diminta segera melapor ke bidan desa melalui kepala desa. Selanjutnya, petugas akan berkoordinasi dengan pihak Puskesmas yang kemudian bisa ditindaklanjuti olehnya.

Pria yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur RSUD Ali Manshur Jatirogo mengingatkan bahwa fogging tidak boleh dilakukan sembarangan karena bahan campurannya bermacam-macam seperti solar, malathion, permetrin, hingga sipermetrin yang berpotensi berbahaya jika digunakan berulang kali.

Sebagai pencegahan, masyarakat diminta menggiatkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui gerakan 3M: menguras, menutup, dan mengubur barang-barang yang berpotensi menampung air, serta menjaga kebersihan lingkungan. (Hus/Tgb).