TUBAN – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban menegaskan komitmennya untuk menekan stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), yang hingga kini masih menjadi hambatan serius dalam upaya pencegahan maupun akses layanan kesehatan.

Komitmen itu diwujudkan melalui Talk Show Program dan Layanan HIV/AIDS pada peringatan Hari AIDS Sedunia 2025. Dalam kegiatan tersebut, Dinkes menegaskan pentingnya edukasi yang tepat, layanan yang ramah, dan kolaborasi lintas sektor agar masyarakat Tuban dapat mengakses tes maupun pengobatan tanpa rasa takut.

Dalam acara tersebut turut hadir para pelajar, para duta, tokoh agama dan masyarakat, hingga jajaran pengurus BEM dari berbagai kampus di seluruh Kabupaten Tuban, sehingga suasana semakin hidup dan penuh semangat kolaborasi.

Data dari Dinkes P2KB Tuban menunjukkan kenaikan jumlah kasus yakni 254 kasus sepanjang 2025. Angka tersebut memang mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 227 kasus. Hal ini menunjukkan upaya skrining dilakukan dengan masif di wilayah.

Selain itu, di Kabupaten dengan 20 kecamatan ini setidaknya 33 puskesmas dan enam rumah sakit yang bisa melakukan layanan testing HIV. Dari total tersebut setidaknya 10 puskesmas dan tiga rumah sakit siap melakukan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) yang tersebar dipenjuru Bumi Wali.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes P2KB Tuban, Roikan mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk menekan stigma dan deskriminasi terhadap ODHA. Disisi lain, adanya kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memberikan edukasi terkait dengan HIV/AIDS.

“Harapannya dengan adanya kegiatan ini stigma-stigma negatif terkait HIV/AIDS ini dapat diminimalisir serta jumlah angka kasus juga dapat ditekan,” papar Roikan, seusai memberikan paparan terkait HIV/AIDS kepada para tamu undangan, Kamis (11/12/2025).

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur RSUD Ali Manshur itu menambahkan bahwa HIV sebenarnya tidak mudah menular. Virus ini tidak berpindah hanya melalui sentuhan biasa, melainkan melalui kontak dengan cairan tubuh tertentu yang berisiko.

“Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak seks sebelum menikah, setia kepada pasangan, menggunakan kondom bila termasuk beresiko, tidak memakai narkoba dan edukasi informasi yang benar,” tambahnya.

Roikan menambahkan meskipun penularan virus HIV cukup sulit, pihaknya tetap melakukan beberapa upaya-upaya pencegahan. Seperti skrining HIV terhadap ibu hamil, calon pengatin, pasien tuberkulosis, pasien Infeksi Menular Seks (IMS), dan populasi kunci.

Selain itu, upaya pencegahan melalui peningkatan layanan PDP serta pemenuhan logistik yang berkaitan dengan HIV seperti reagent tes HIV, reagen Viral Load, obat ARV, obat Infeksi Oportunistik, dan bahan habis pakai yang digunakan dalam pemeriksaan HIV.

“Kolaborasi lintas sektor, lintas program, stakeholder terkait, dan pelibatan komunitas LSM dan masyarakat juga tak kalah penting dalam upaya pencegahan,” tutup Roikan. (Hus/Tgb).