TUBAN – Kesucian bulan Ramadhan yang identik dengan pintu maaf tampaknya tak berlaku bagi ratusan pasangan di Kabupaten Tuban. Bukannya saling mempererat silaturahmi, mereka justru memilih meja hijau Pengadilan Agama sebagai jalan akhir untuk mengakhiri ikatan suci di tengah bulan penuh berkah.
Data yang diperoleh dari Pengadilan Agama (PA) Tuban menunjukkan bahwa dalam periode triwulan pertama pada bulan Januari hingga Maret di tahun 2026 ini, tercatat setidaknya ada 497 perkara perceraian. Angka ini terbilang cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dibandingkan data pada triwulan pertama tahun 2025, tercatat setidaknya ada 475 perkara cerai gugat. Angka tersebut dibilang naik 15 perkara dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 460 perkara.
Angka perceraian sepanjang triwulan pertama 2026 tercatat sebesar 155 perkara di Januari dan 154 perkara di Februari. Secara mengejutkan, tren ini naik tajam pada bulan Maret hingga menyentuh angka 188 perkara, padahal bulan tersebut bertepatan dengan momentum akhir Ramadhan.
Menarik untuk dicatat bahwa perselisihan yang tiada henti kini menjadi alasan utama pasangan berpisah, mencapai angka 232 kasus. Hal ini melampaui alasan-alasan konvensional lainnya. Di sisi lain, tekanan finansial tetap menjadi faktor krusial di urutan kedua dengan kontribusi sebanyak 223 kasus.
Panitera Muda Permohonan PA Tuban, Wawan menyebut lonjakan perkara perceraian sejak awal tahun hingga momentum Ramadan menjadi cerminan rumitnya persoalan rumah tangga di tengah masyarakat. Menurutnya, faktor utama yang menjadi pemicunya adalah konflik yang berkepanjangan.
“Selain itu, faktor ekonomi juga cukup dominan dan kerap menjadi pemantik utama,” ujar Wawan saat ditanya, Senin (13/4/2025).
Menurutnya, Ramadan yang identik dengan refleksi diri dan perbaikan justru tak selalu berujung pada rekonsiliasi. Sebagian pasangan malah menjadikan momen ini sebagai titik akhir dari persoalan yang telah lama mengendap.
“Banyak pasangan sebenarnya sudah lama menghadapi masalah. Ramadan menjadi momentum untuk mengambil keputusan, termasuk berpisah,” tambahnya.
Fenomena ini menghadirkan ironi. Ketika sebagian masyarakat mempererat relasi keluarga dan menguatkan nilai kebersamaan, sebagian lainnya justru memilih mengakhiri ikatan rumah tangga.
Jika kecenderungan ini terus berlanjut, angka perceraian di Tuban sepanjang 2026 berpotensi kembali meningkat, terutama setelah Lebaran yang kerap diikuti lonjakan perkara baru.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa di balik hangatnya suasana Ramadan dan Lebaran, masih tersimpan persoalan rumah tangga yang tak kunjung tuntas hingga berujung perpisahan. (Hus/Tgb).
