TUBAN — Cuaca tak menentu di perairan utara Tuban membuat aktivitas nelayan sepi dalam sepekan terakhir. Sejumlah kapal nelayan memilih bersandar di bibir pantai, terutama di kawasan pesisir Desa Keradenan, Kecamatan Palang, akibat tingginya gelombang dan angin kencang yang membahayakan pelayaran.

Pantauan di lapangan pada Kamis (6/11/2025), puluhan kapal tampak berjejer di tepi pantai tanpa aktivitas bongkar muat. Di sela teriknya matahari, beberapa nelayan sibuk menambal jaring dan memeriksa mesin perahu mereka, tanda bahwa laut sedang “beristirahat”.

“Sepi, Mas. Penghasilan nelayan turun karena cuaca tidak menentu,” ujar Sulaiman, nelayan setempat, kepada Ronggo.id yang ditemui sambil memperbaiki jaring di bawah pohon kelapa.

Menurutnya, ombak di perairan Tuban dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi dan kerap disertai hembusan angin kencang.

“Kalau dipaksakan melaut, kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Nada serupa disampaikan Narto, nelayan lain asal Palang. Ia menyebut kondisi cuaca buruk sudah berlangsung hampir sepekan dan berdampak pada hasil tangkapan.

“Hasil ikan sedikit, harga di pasar jadi naik. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak, ya menunggu cuaca reda,” ujarnya pasrah.

Kepala BMKG Kelas III Tuban, Mochammad Nur, mengonfirmasi bahwa wilayah Tuban kini memasuki masa peralihan menuju musim hujan. Berdasarkan prakiraan, curah hujan akan meningkat dalam sepekan ke depan.

“Hari ini potensi hujan terjadi di seluruh kecamatan, terutama sore hingga malam hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, puncak musim hujan di Tuban diperkirakan terjadi pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

“BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, agar waspada terhadap petir dan angin kencang saat mendung pekat. Tetap pantau informasi cuaca resmi dan jaga keselamatan,” pungkasnya. (Har/Tgb).