TUBAN – Para aktivis Pemuda Pancasila (PP) mendatangi Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban, Senin (14/7/2025) sekitar pukul 10.30 wib.
Mereka pertanyakan banyaknya pasar tradisional yang telah dibangun dengan dana APBD Tuban terbengkelai. Sesuai temuan PP Tuban di lapangan, tak sedikit dari bangunan tersebut mangkrak tak difungsikan.
Mereka datang dengan dua mobil. Terlihat diantaranya mengenakan uniform doreng oranye yang jadi ciri khas seragam PP.
Pihak PP meminta penjelasan tentang banyaknya pasar yang dibangun tetapi tak beroperasi secara penuh. Diantara temuan aktivis PP, pasar yang terbangun kemudian tak beroperasi itu adalah Pasar Kenduruan di wilayah Kecamatan Kenduruan, Pasar Penambangan di Kecamatan Semanding, dan Pasar Bulu di wilayah Kecamatan Bancar.
Organisasi para aktivis yang dikenal kritis terhadap penyimpangan anggaran yang berkantor di Perumahan Karang Indah, Tuban ini, juga menyoroti buruknya pengelolaan Pasar Bongkaran di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding. Pasar itu dinilai kumuh, dan banyak pedagang yang berjualan di pinggir jalan.
Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO), PP Tuban, Muhammad Musa, mengatakan, pihaknya datang meminta penjelasan dari Kepala Diskopumdag, Agus Wijaya, tentang banyaknya pasar yang mangkrak. Pengelolaan pasar juga dipertanyakan dalam audiensi yang berlangsung sekitar dua jam itu.
“Yang paling kami soroti yaitu pertama Pasar Kenduruan, Pasar Penambangan, serta Pasar Bulu,” tambah Muhammad Musa saat dikonfirmasi usai audiensi.
Terkait dengan banyaknya pasar mangkrak, pria yang akrab disapa Musa ini menambahkan, pihaknya merekomendasikan Diskopumdag Tuban untuk menyerahkan pengelolaan pasar kepada pihak pemerintah desa. Meskipun aset tersebut masih dipegang oleh Pemkab Tuban.
“Sebagai contoh seperti pasar di Montong, itu juga dulunya mangkrak, tapi karena dikelola desa akhirnya berjalan,” tambahnya.
Sedangkan Agus Wijaya mengatakan, kedatangan Ormas PP itu sebagai bentuk pemberian kritik maupun saran terkait dengan pengelolaan pasar ke depannya. Pihaknya akan mengkaji terkait kebijakan yang disarankannya.
“Kami berharap hasil audiensi ini bisa memberikan semangat baru serta alternatif solusi untuk pengembangan pengelolaan pasar kedepan,” kata Agus.
Agus Wijaya mengaku, untuk menghidupkan pasar ini butuh usaha yang luar biasa. Tak adanya embrio pasar di lokasi sekitar pasar-pasar yang mangkrak tersebut. Hal tersebut dijadikan alasan dalam pengelolaan pasar.
“Kalau ada embrionya kita tinggal bangun dan kalau mulai dari nol itu yang kerja keras luar biasa,” pungkas Agus Wijaya. (Hus/Tgb).
