TUBAN – Fenomena perkembangan teknologi informasi yang semakin masif, menjadikan gadget sebagai alat untuk membantu kegiatan sehari-hari. Hal tersebut jelas dapat memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan manusia seperti halnya brain rot.
Brain rot sendiri merupakan istilah psikologi yang menggambarkan, kondisi dimana seseorang mengalami penurunan dalam kemampuan berpikirnya. Hal ini dipicu karena seringnya mengonsumsi konten-konten di sosial media yang berdurasi singkat, dan tak memiliki isi yang mengedukasi. Hal-hal tersebut tanpa disadari akan membuat seseorang kehilangan ketajaman otaknya.
Konselor Psikologis Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos P3A, PMD) Kabupaten Tuban, Ana Zubaidah, menjelaskan brain rot ini didasari karena individu kurang mendapatkan informasi membangun yang diperlukan otak. Alam bawah sadar akan nyaman dengan kurangnya informasi tersebut, akan menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis otak.
Kenyamanan akan kurangnya informasi tersebut, dapat membuat otak yang seharusnya mampu untuk menganalisis, berpikir kritis,dan kemampuan lain yang sifatnya logis dan rasional, justru menjadi tumpul karena banyak mengonsumsi konten-konten yang tak bermanfaat. Kondisi tersebut sangat merugikan.
“Konten-konten dengan durasi singkat tersebut jika dilihat berulang-ulang, dan secara terus menerus akan menyebabkan hormon dopamin (hormon kesenangan) meningkat sehingga akan menyebabkan kecanduan, serta kemalasan otak untuk menerima konten dengan informasi yang positif,” kata Ana Zubaidah.
Lebih lanjut, Sarjana Psikologi lulusan Universitas Airlangga, Surabaya ini juga menyebut, individu yang mengalami brain rot tak menyadari akan hal yang menimpanya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya ialah kurangnya kesadaran, atau informasi terkait masalah yang terjadi akibat media sosial.
“Orang dengan brain rot ini tak bisa berpikir kritis dan logis, mengalami penurunan konsentrasi, malas mencari informasi yang lengkap, mengalami mood yang berubah-ubah serta mudah stress,” ungkapnya.
Ana juga menyayangkan jika penyebaran konten-konten dengan durasi singkat yang tak bermanfaat tak bisa dihentikan. Pada konteks itu hanya individulah yang dapat mengontrol sendiri terkait apa yang dikonsumsinya di sosmed.
“Tapi masalah brain rot ini bisa disembuhkan dengan cara melakukan detoks pada otak untuk mengembalikan ketajaman daya pikir,” tuturnya.
Adapun hal yang bisa dilakukan sebagai detoks antara lain; mengurangi waktu penggunaan gadget, memilah isi konten dengan yang lebih bermanfaat dengan durasi panjang, mulai membaca buku, dan mempelajari keterampilan baru. Termasuk pula melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk mendistraksi individu dari penggunaan ponsel. (Hus/Tgb).
