TUBAN — Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tuban terus menanjak. Namun di balik grafik yang tampak meyakinkan itu, sektor pendidikan justru berjalan tertatih. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) salah satu penentu utama IPM terkunci di angka 7,5 tahun, setara anak yang belum menuntaskan pendidikan SMP.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang 2022 hingga 2025, RLS Tuban hanya bergerak dari 7,37 menjadi 7,54 tahun. Kenaikan 0,17 tahun dalam kurun tiga tahun ini nyaris tak berarti. Pendidikan di kabupaten yang membentang di 20 kecamatan itu seolah berhenti di kelas VIII.
Kondisi tersebut kontras dengan capaian nasional. Pada 2025, RLS Indonesia telah menyentuh 9,07 tahun, setara hampir lulus SMA. Jarak lebih dari satu setengah tahun itu mencerminkan ketimpangan serius antara Tuban dan rerata nasional, sekaligus mengaburkan klaim keberhasilan pembangunan manusia di daerah.
Statistisi Ahli Muda BPS Tuban, Triana Pujilestari, menjelaskan bahwa RLS dihitung dari penduduk berusia 25 tahun ke atas, kelompok usia yang dianggap telah menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan formal.
“Tidak ada batasan usia maksimal dalam penghitungan RLS. Lansia tetap masuk dalam perhitungan,” ujar Triana kepada Ronggo.id, Selasa (23/12/2025).
Struktur demografi inilah yang menjadi beban statistik Tuban. Banyak warga usia lanjut di daerah seluas 1.904,07 kilometer persegi itu tercatat hanya lulus SD, SMP, bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Warisan pendidikan masa lalu tersebut membuat angka RLS sulit melonjak, meski akses pendidikan kini lebih terbuka.
Namun, Triana menilai stagnasi ini bukan alasan untuk pasrah. Ia menyebut pendidikan non-formal sebagai jalur paling realistis untuk mendongkrak RLS dalam jangka menengah. Program Kejar Paket yang memberi kesempatan warga putus sekolah memperoleh ijazah setara SD, SMP, dan SMA dinilai dapat menjadi instrumen korektif.
Program tersebut memberi harapan bagi kelompok usia produktif yang gagal menyelesaikan pendidikan formal. Namun, hasilnya tak bisa instan.
“Meningkatkan RLS bukan proses cepat. Peserta Kejar Paket perlu waktu sekitar dua tahun hingga lulus. Dampaknya baru akan terlihat dalam statistik dua sampai tiga tahun ke depan,” kata Triana, yang juga menjabat Ketua Tim Humas BPS Tuban.
Persoalan pendidikan Tuban pada akhirnya bukan sekadar angka. Ia mencerminkan keterbatasan intervensi kebijakan yang belum menyentuh akar persoalan secara masif.
Tanpa dorongan serius terhadap wajib belajar, pendidikan non-formal, dan perubahan kesadaran masyarakat, kenaikan IPM berisiko menjadi sekadar kosmetik statistik tinggi di laporan, rapuh di realitas. (Hus/Tgb).
