, (Ronggo.id) – Penarikan uang sumbangan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Tuban yang dikeluarkan oleh pihak komite menuai protes dari wali murid.

Bahkan salah seorang wali murid SMPN 3 Tuban Budi Tristianto (44) sudah 2 kali mendatangi sekolah tempat anaknya belajar untuk melayangkan protes. Kedatangannya yang kedua pada Selasa (5/9/202) siang ditemui Kepala SMPN 3 Tuban Anik Winarni

Diungkap Budi, dalam notulen pertemuan komite dan pengurus paguyuban kelas 8 dan 9 pada 25 Agustus 2023 lalu tertera, bagi siswa kelas 8 dikenakan biaya sumbangan sebesar Rp1,5 – 1,7 juta.

Kemudian kelas 9 antara Rp1,2 – 1,7 juta, bagi siswa yang kurang mampu dibuktikan dengan kartu sosial dan surat keterangan tidak mampu.

“Dulu anak saya kelas 1 bayar sumbangan Rp2,7 juta, kelas 2 Rp1 juta, dan kelas 3 antara Rp1,2 – 1,7 juta/tahun,” ungkapnya.

Budi menambahkan, dalam notulen tersebut juga diterangkan, biaya yang dibebankan kepada siswa kelas 8 dan 9 masing-masing digunakan untuk membiayai 13 kegiatan dalam waktu 1 tahun.

“Apapun keputusan komite yang baru kalau mengacu pada aturan, tentu tidak sah. Bukan keberatan lagi, tapi saya akan tarik ulur lagi soal sumbangan itu,” imbuhnya.

Tak hanya mempersoalkan penarikan sumbangan oleh komite, Budi juga menyinggung legalitas komite sekolah dengan segala kebijakan yang dikeluarkan.

“Dulu rapat komite saya hadir, sementara re komite yang berlangsung 2022 ini tidak ada undangan dari wali murid tiba-tiba sudah berlanjut ketua komitenya sampai sekarang. Pemilihan ketua komite ini apakah sesuai Permendikbud,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Tuban, Anik Winarni menyampaikan, bahwa sumbangan yang diputuskan oleh pihak komite bersama paguyuban tersebut sifatnya sukarela.

“Tidak ada paksaan dan banyak wali murid yang mengajukan keberatan dan diberi keringanan,” tuturnya.

Anik menjelaskan, pembentukan paguyuban untuk kelas 8 dan 9 merupakan petunjuk dari Dinas Pendidikan Tuban. Untuk kelas 7 belum terbentuk paguyuban, sehingga waktu itu semua wali murid diundang semua untuk rapat.

Karena sifatnya fleksibel atau sukarela, Anik juga menginformasikan bahwa sedikit banyaknya sumbangan dari orang tua akan mempengaruhi kegiatan di sekolah.

“Jika anggaran untuk kegiatan yang direncakan rutin setahun belum ada, maka solusinya beberapa kegiatan akan ditunda pelaksanaannya atau ditiadakan,” pungkasnya. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS