TUBAN – Rencana kehadiran outlet minuman keras (miras) HWG 23 atau Holywings Group di Kabupaten Tuban memicu sorotan tajam dari Ketua Komisi II DPRD Tuban, Fahmi Fikroni. Keberadaan tempat hiburan yang menjajakan miras tersebut dinilai mencederai predikat “Bumi Wali” yang selama ini melekat erat pada karakter religius masyarakat di ujung utara Jawa Timur ini.

Perlu diketahui, gerai tersebut rencananya akan berdiri di Jalan Pahlawan, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, tepat di sebelah timur salah satu toko modern. Rencananya, outlet itu sendiri akan dibuka secara resmi oleh pemiliknya pada tanggal 5 Februari 2026 nanti.

Ketua Komisi II DPRD Tuban, Fahmi Fikroni, angkat bicara mengenai keresahan tersebut. Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menegaskan bahwa setiap pelaku usaha seharusnya menjunjung tinggi kearifan lokal dan menghormati sosiokultural masyarakat Tuban yang agamis.

“Harusnya perusahaan menghormati masyarakat Tuban yang religius. Kehadiran outlet miras ini jelas bertentangan dengan identitas Tuban sebagai Bumi Wali,” tegas pria yang akrab disapa Roni tersebut, Kamis (29/01/2026).

Lebih lanjut, pria bergaya modis ini mengkhawatirkan dampak sosial yang akan ditimbulkan, termasuk potensi gesekan dengan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) di Bumi Ranggalawe.

“Sebagai bentuk fungsi kontrol legislatif, kami berjanji akan mengawal ketat proses perizinan operasional outlet tersebut,” tegas politisi kawakan asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Di sisi lain, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tuban, Esti Surahmi, mengaku baru mengetahui rencana operasional outlet tersebut saat dikonfirmasi pada Senin (26/1/2026) kemarin. Ia menjelaskan bahwa sistem perizinan saat ini terpusat secara elektronik.

“Soalnya sekarang perizinan lewat online melalui OSS (Online Single Submission). Kami terima kasih sudah dikabari,” singkat Esti saat dikonfirmasi sebelumnya.

Sementara itu, saat pewarta hendak konfirmasi di gerai 23 HWG pada Kamis (29/1/2026) siang sekitar pukul 12.10 wib, terlihat outlet tersebut tertutup rapat dengan pintu tergembok.

Polemik ini kini menjadi perhatian publik, mengingat masyarakat Tuban sangat sensitif terhadap isu-isu yang dianggap mampu mengikis nilai-nilai religius di daerah mereka. (Hus/Tgb).