TUBAN – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali terjadi di Kabupaten Tuban. Antrean panjang kendaraan tampak mengular hingga berjam-jam di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), seiring menipisnya kuota solar yang dikirim ke wilayah tersebut menjelang akhir tahun.

Pantauan di beberapa SPBU 54.623.05 di sekitar Kota Tuban, Kamis (30/10/2025), menunjukkan truk dan minibus berjajar hingga ke badan jalan. Di beberapa titik, kondisi ini bahkan menimbulkan kemacetan arus lalu lintas. Sejumlah SPBU juga dilaporkan kehabisan stok solar sejak pagi hari.

Toni Hemawan (48), sopir angkutan umum asal Tuban, mengaku kesulitan mendapatkan solar selama lebih dari sepekan terakhir. Ia terpaksa membeli bahan bakar di warung eceran dengan harga lebih mahal agar tetap bisa beroperasi.

“Biasanya di SPBU Sleko tidak pernah kosong, tapi beberapa hari ini sulit sekali. Saya antre dari jam sembilan pagi, baru dapat solar jam setengah satu siang,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami Murtaji (30), sopir truk pengangkut barang. Ia mengaku baru bisa mendapatkan solar setelah empat hari mencari.

“Dari pagi muter ke beberapa SPBU tetap kosong. Sekarang pun antreannya panjang banget, Mas,” kata dia.

Pengawas SPBU 53.623.27 Gesing, Teguh, membenarkan bahwa pasokan solar ke SPBU-nya menurun drastis. Jika sebelumnya mereka mendapat jatah hingga 24 ton per hari, kini hanya menerima 16 ton.

“Kuota 16 ton itu kami bagi menjadi tiga shift, masing-masing sekitar lima ton. Satu ton kami sisihkan di tangki agar pompa tidak rusak,” jelasnya.

Menanggapi antrean panjang di berbagai SPBU, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, membantah adanya kelangkaan. Menurutnya, antrean menunjukkan meningkatnya kebutuhan solar di waktu yang bersamaan.

“Stok biosolar di wilayah Tuban dan sekitarnya tersedia. Jika ada SPBU yang kosong, berarti sedang dalam proses pengiriman,” kata Ahad saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

Ahad menegaskan bahwa solar merupakan BBM bersubsidi yang penyalurannya diatur sesuai kuota pemerintah. Pembatasan menjelang akhir tahun merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan kuota agar penyaluran tidak melebihi alokasi nasional.

“Untuk jumlah produk di sarana distribusi Pertamina Patra Niaga, semuanya tersedia dan termonitor secara digital,” ujarnya.

Kelangkaan solar yang belum tertangani secara tuntas membuat aktivitas para sopir terganggu. Selain itu, sebagian warga juga mengeluhkan kualitas BBM non-solar seperti Pertalite yang disebut menyebabkan mesin kendaraan “brebet” dan sampai hari ini masih hangat diperbincangkan. (Hus/Tgb).