TUBAN – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tuban selama dua hari terakhir di tengah puncak musim kemarau memantik perhatian masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Tuban memastikan fenomena tersebut bukanlah tanda pergantian musim, melainkan akibat gangguan atmosfer sementara.
Sejak Senin (18/8/2025), mendung pekat sudah menaungi wilayah seluas 1.905 kilometer persegi ini. Derasnya hujan yang turun secara tiba-tiba di beberapa kecamatan menimbulkan pertanyaan publik, mengingat bulan Agustus dikenal sebagai puncak musim kemarau di Jawa Timur.
Kepala Stasiun BMKG Tuban, Mochammad Nur, menjelaskan bahwa curah hujan ini dipicu oleh dinamika atmosfer global, salah satunya Madden-Julian Oscillation (MJO), yakni gelombang atmosfer tropis yang bergerak dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik dalam periode 30–60 hari.
“Fenomena ini bersifat sementara. MJO yang aktif, ditambah suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya, memicu pertumbuhan awan konvektif sehingga hujan turun meski masih berada dalam musim kemarau,” jelas Nur saat dikonfirmasi, Selasa (19/8/2025).
BMKG memperkirakan hujan lokal ini hanya berlangsung hingga tiga hari ke depan, sebelum kembali ke pola kering khas kemarau. Adapun puncak musim kemarau 2025 diprediksi terjadi sepanjang Agustus, dengan kemungkinan berlanjut hingga September–Oktober, sesuai catatan historis wilayah Jawa Timur.
Fenomena cuaca anomali ini membawa konsekuensi bagi sektor pertanian dan kelautan. BMKG mengimbau petani agar menggunakan informasi prakiraan cuaca harian sebagai dasar pengaturan jadwal tanam maupun panen. Sementara bagi nelayan, waspada terhadap peningkatan tinggi gelombang menjadi hal penting, terutama menjelang puncak kemarau yang kerap disertai angin kencang di perairan utara Jawa.
“Informasi dari BMKG selalu diperbarui. Kami harap masyarakat, terutama petani dan nelayan, menjadikannya acuan agar terhindar dari kerugian akibat perubahan cuaca yang mendadak,” tambah Nur.
Secara ilmiah, MJO berperan penting dalam mengatur pola hujan tropis. Gelombang atmosfer ini bisa memperkuat atau melemahkan curah hujan di daerah yang dilaluinya, termasuk Indonesia. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa hujan di luar musim, seperti yang kini terjadi di Tuban.
Dengan adanya dinamika atmosfer semacam ini, BMKG menegaskan bahwa hujan deras di Tuban bukanlah pertanda awal musim hujan. Masyarakat diminta tetap tenang, namun waspada, mengingat perubahan iklim global membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi secara kasat mata. (Hus/Tgb).
