TUBAN Tragedi kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang driver ojek online (Ojol) di depan proyek Sekolah Rakyat (SR) Tuban pada Senin (11/05/2026) tengah malam berbuntut panjang. Tak puas dengan rilis kronologi awal, puluhan rekan profesi korban mulai bergerak menuntut transparansi dan keadilan.

Jumat pagi (15/05/2026), Mapolres Tuban nyaris digeruduk massa Ojol yang hendak menggelar aksi solidaritas. Namun, mengingat padatnya agenda pengamanan kunjungan Presiden besok, massa akhirnya melunak dan hanya mengirimkan perwakilan komunitas untuk beraudiensi dengan Unit Gakkum Satlantas Polres Tuban.

Melalui Kanit Gakkum, IPTU Eko Sulistyono menegaskan bahwa pihaknya tidak main-main dalam mengusut kasus ini. Fokus penyelidikan kini mengarah pada tanggung jawab pengelola infrastruktur dan pelaksana proyek di lokasi kejadian.

“Hari Selasa besok, pihak PDAM resmi kami panggil. Setelah itu, menyusul pihak PT Waskita Karya selaku kontraktor penggarap proyek SR,” tegas Eko Sulistyo di hadapan perwakilan ojol.

Sejauh ini, polisi telah memeriksa lima orang saksi. Dari mereka polisi memiliki poin krusial yang tengah didalami adalah terkait standar keamanan (K3) di lokasi proyek. Sesuai aturan, area pekerjaan yang memakan badan jalan wajib memiliki rambu peringatan minimal lima meter sebelum titik lokasi, lengkap dengan lampu penanda (rotary) saat malam hari.

“Menurut para saksi yang sudah kami mintai keterangan rambu peringatan memang terpasang tetapi tepat berada di lokasi gundukan,” tutupnya.

Sementara itu, koordinator aksi, Nanang Sasmito mengungkapkan bahwa pihaknya menaruh perhatian serius pada minimnya itikad baik dari pelaksana proyek. Ia menyebut pihak kontraktor seolah-olah lepas tangan setelah memberikan tali asih sesaat setelah kejadian.

“Keluarga korban ini merasa trauma atas kejadian tersebut, bahkan juga sampai menimbulkan dampak psikologis yang cukup mendalam,” tambahnya.

Sikap tegas juga datang dari Ketua Persatuan Driver Ojol Indonesia (PDOI) Tuban, Hendra Waskita. Ia menegaskan bahwa para driver siap pasang badan untuk membantu kepolisian mencari saksi-saksi tambahan demi memperjelas duduk perkara.

“Kami siap membantu memperkuat bukti-bukti, karena kami rasa pihak kepolisian telah membuka diri,” ungkap Hendra.

Nantinya, lanjut Hendra, pihak kepolisian juga akan mencoba memfasilitasi pertemuan antara keluarga korban, PT Waskita Karya yang diduga sebagai penyebab munculnya gundukan itu, dan pihak PDAM Tirta Lestari Tuban sebagai penggali jalan untuk pemasangan pipanya.

Dalam pertemuan yang rencananya dilakukan Selasa (19/6) besok, akan membuka dialog dan titik temu antara permintaan keluarga korban dan pihak-pihak terkait. Menurutnya, keluarga korban sangat terpukul atas kehilangan sosok tulang punggung bagi mereka.

“Jika nantinya dalam pertemuan itu tak ada titik temu, kita pasti akan kawal terus sampai keluarga korban ini legowo,” pungkasnya.

Aksi ojol hari ini juga dilatarbelakangi oleh kejadian beberapa waktu lalu. Yang mana salah satu rekan ojol harus meregang nyawa usai mengalami gundukan aspal akibat dari penggalian pipa PDAM. Galian pipa yang sudah diuruk itu kemudian dilintasi oleh truk-truk besar di proyek pembangunan SR. Karena adanya kegiatan lalu lalang kendaraan berat, akhirnya aspal itu rusak dan mulai terbentuk gundukan.

Kasus ini menjadi ujian nyata soal tanggung jawab dan keselamatan publik. Di tengah duka yang belum usai, keluarga korban hanya menuntut kejelasan. Jika tak ada titik terang, gelombang solidaritas bukan tak mungkin kembali membesar untuk mengawal keadilan. (Hus/Tgb).