TUBAN – Kecelakaan maut yang dialami M. Iqbal Firmansyah di depan proyek Sekolah Rakyat (SR) tampaknya sedang dalam proses penyuntingan. Ratusan ojol menilai ada sutradara dadakan yang mencoba mengubah skrip kenyataan agar pihak tertentu tetap terlihat suci tanpa noda.
Alasan mereka menilai seperti itu tak lepas dari janggalnya rambu-rambu peringatan yang ada pada gundukan tersebut. Sebelum gundukan aspal itu berhasil mengambil nyawa ojol, rambu-rambu disana nampak hanya terdapat dua traffic cone dan plang peringatan tanpa adanya penerangan.
Sata satu rekan ojol yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kesaksiannya sekitar tiga jam sebelum kecelakaan itu bermula. Saat itu pada Senin (11/5/2026) sekira pukul 21.00 wib, ia tengah berkendara santai melewati jalan Letda Sucipto. Tepat di depan lokasi proyek ia mendapati sudah ada gundukan aspal tersebut.
“Dua traffic cone itu juga sudah terpasang memang, Mas, tapi awalnya itu tidak ada rambu-rambu penerangannya padahal disitu itu gelap,” katanya saat ditanya setelah aksi tabur bunga berlangsung, Rabu (13/5/2026) malam.
Yang membuatnya keheranan adalah munculnya lampu penerangan pada kedua traffic cone tersebut saat kecelakaan terjadi. Lampu penerangan tersebut menyerupai tongkat pengatur lalu lintas yang biasa digunakan pada malam hari.
“Yang aneh ini traffic cone-nya juga diletakkan tepat diatas gundukan aspal itu, harusnya kan di berikan berapa meter gitu agar terlihat lebih awal oleh pengendara yang melintas,” tambahnya.
Senada, Koordinator aksi tabur bunga ojek daring, Nanang Sasmito, menyampaikan pandangan serupa. Ia menduga adanya upaya pengaburan fakta oleh pihak tertentu, yang ditandai dengan kemunculan lampu penerangan keselamatan secara mendadak di lokasi kejadian.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti terkait dengan sat setnya perbaikan jalan yang dilakukan. Padahal, sebelum adanya kecelakaan itu, gundukan aspal tersebut tetap dibiarkan begitu saja tanpa di perbaiki sama sekali.
“Baru pada pagi harinya gundukan itu langsung ditutup. Harapannya kita itu dikasih plang peringatan beberapa meter dari gundukan itu, tapi itu tidak ada,” terang Nanang.
Nanang mengungkapkan ratusan ojol ini nantinya akan menggelar aksi serupa menjelang tujuh harinya korban. Selain untuk doa bersama, aksi tersebut juga sebagai bentuk agar tuntutan keluarga yang ditinggal oleh korban terpenuhi.
“Tujuh hari ini kita turun lagi kalau ngga ada titik temu antara keluarga dan pihak terkait,” pungkasnya.
Sampai saat ini, pihak dari PT Waskita Karya yang diduga menjadi biang kerok gundukan aspal itu muncul masih menutup mulutnya rapat-rapat. Meski mereka telah berupaya datang menuju rumah duka, namun kompensasi yang diberikan dinilai oleh keluarga tak sebanding dengan hilangnya nyawa korban.
Sebelumnya gundukan aspal yang diduga bekas galian pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lestari Tuban yang akan digunakan sebagai penunjang fasilitas SR nantinya. Bekas galian tersebut kemudian diaspal kembali oleh yang bersangkutan. Namun, lalu lalang kendaraan berat dari proyek sekolah tersebut membuatnya rusak dan membentuk gundukan.
Akibat gundukan itu, seorang pengendara ojol harus meregang nyawa usai melintas diatas gundukan itu. Meninggalnya M. Iqbal Firmansyah membawa duka yang mendalam bagi rekan-rekan ojol sehingga membuat mereka melakukan aksi solidaritas tabur bunga dilokasi TKP kejadian. (Hus/Tgb).
