TUBAN – Politeknik Pertanian dan Peternakan (Poltana) Mapena Singgahan Tuban resmi menggandeng Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tuban untuk memperkuat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) mahasiswa. Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang berfokus pada pengembangan keilmuan, pengabdian masyarakat, dan pengasahan soft skill.

Direktur Poltana Mapena, Teguh Dwi Putra, mengungkapkan kegelisahannya terkait fenomena penurunan kualitas mental dan kepemimpinan di kalangan mahasiswa belakangan ini. Menurutnya, kepintaran akademik saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kematangan sosial.

“Banyak mahasiswa unggul secara kognitif, tapi masih gagap secara mental dan kepemimpinan. Ada ruang kosong dalam aktualisasi diri yang harus diisi,” ungkap Teguh usai prosesi penandatanganan MoU.

Ia menegaskan, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat transfer teori. Lebih dari itu, kampus memikul tanggung jawab besar dalam membentuk integritas dan karakter. Di sinilah peran organisasi eksternal seperti HMI dianggap krusial sebagai kawah candradimuka bagi mahasiswa.

“Di organisasi, mahasiswa belajar berhadapan dengan konflik, mengambil keputusan, dan berkomunikasi. Hal-hal seperti ini tidak semuanya diajarkan di dalam kelas,” imbuhnya.

Melalui sinergi ini, nantinya akan digelar berbagai program kolaboratif mulai dari pelatihan kepemimpinan, diskusi kritis, hingga aksi nyata pengabdian kepada masyarakat yang menyasar wilayah Tuban dan sekitarnya.

Gayung bersambut, Ketua HMI Cabang Tuban, Agus Siswanto, menyambut hangat keterbukaan pihak kampus Poltana Mapena. Ia menilai, kolaborasi ini adalah angin segar bagi para kader untuk mengaktualisasikan potensi diri di lingkungan akademis.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Direktur Poltana Mapena. Ini peluang emas bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan dinamika sosial,” kata Agus optimis.

Agus berharap, kerja sama ini tidak sekadar formalitas di atas kertas, namun mampu menciptakan ekosistem mahasiswa yang cerdas, kritis, dan berintegritas.

“Tujuannya jelas, kita ingin mencetak generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga matang secara emosional dan siap menjadi pemimpin masa depan,” pungkasnya. (Hus/Tgb).