TUBAN – Di tengah moncernya capaian PAD wisata Tuban, destinasi Goa Akbar justru mencatatkan rapor merah karena gagal memenuhi target pendapatan tahun 2025. Lokasinya yang berhimpitan dengan pasar tradisional ditengarai menjadi penyebab utama wisatawan enggan berkunjung lantaran merasa kurang leluasa dan nyaman.

Data yang dihimpun tim Ronggo.id Tuban menyebutkan, sektor PAD dari tiga tempat wisata yang dikelola oleh Pemkab Bumi Wali; Pantai Boom, Goa Akbar dan Pemandian Bektiharjo, pada tahun 2024 hanya mencapai sekitar Rp900 juta. Angka itu tersebut terbilang cukup minim, karena memerlukan biaya operasional pertahun yang mencapai sedikitnya sekitar Rp800 juta.

Meski begitu kenaikan PAD terjadi cukup signifikan di tahun 2025. Sektor tiga wisata yang dikelola pemerintah tercatat mencapai sekitar Rp1,141 miliar. Berbeda Rp300 juta lebih daripada tahun sebelumnya.

Di tengah tren positif tersebut, Goa Akbar justru menjadi destinasi dengan performa paling redup dibandingkan dua wisata milik daerah lainnya. Tempat wisata ini hanya mampu menyetor PAD sebesar Rp216 juta, meleset dari target awal yang dipatok senilai Rp260 juta.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Pantai Boom yang sukses meraup Rp456 juta dari target Rp450 juta. Performa gemilang juga ditunjukkan Pemandian Bektiharjo yang berhasil melampaui target Rp440 juta dengan realisasi mencapai Rp469 juta.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Tuban, M. Emawan Putra mengungkapkan menilai letak geografis Goa Akbar menjadi sandungan utama tak tercapainya PAD. Lokasinya yang berhimpitan dengan pasar tradisional membuat wisatawan merasa kurang nyaman.

“Lokasi wisata sangat memengaruhi kunjungan. Goa Akbar misalnya, lokasinya berdekatan dengan pasar. Itu penyebab wisatawan merasa kurang leluasa ketika berkunjung,” ungkap Emawan saat dikonfirmasi di kantornya pada Senin (11/5/2026).

Menurutnya, hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan Pantai Boom. Meski sama-sama dikelola Pemkab Tuban, Pantai Boom memiliki akses yang lebih terbuka dan strategis, sehingga tetap menjadi pilihan utama bagi peziarah maupun wisatawan umum yang melintas di jalur Pantura.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Emawan ini menegaskan pentingnya penerapan konsep Sapta Pesona secara konsisten. Bukan hanya soal keindahan alam atau goa saja, melainkan juga aspek keamanan, ketertiban, kebersihan, hingga kenangan yang didapat wisatawan.

“Destinasi wisata tidak hanya populer karena pemandangannya saja, tetapi juga pengalaman kuliner, keramahan warga, hingga produk khas daerah. Ini penunjang utama,” tandasnya.

Kelesuan kunjungan di Goa Akbar ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kabupaten Tuban. Di saat tren kunjungan wisata desa di Tuban bisa mencapai 1.000 pengunjung saat akhir pekan, Goa Akbar justru terseok-seok mengejar target di tengah hiruk-pikuk aktivitas pasar yang dinilai mengganggu kenyamanan pengunjung. (Hus/Tgb).