RONGGO.ID – PT Pertamina Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina bersama SKK Migas menggelar Media Gathering 2024 bersama awak media di masing-masing area produksi, dengan tema Energizing Media Inspiring Change. Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Bandung tersebut juga menampilkan berbagai kesuksesan Lokal Hero Regional 4.

Pada kesempatan tersebut, terdapat tiga Lokal Hero Regional 4 yang dihadirkan sebagai wujud keberhasilan PT Pertamina Regional Indonesia Timur dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dilingkungan perusahaan wilayah kerja. Diantaranya, Tatik, Lokal Hero pelaku UMKM batik Daun Sambiloto dari Sukowati Filed Bojonegoro, kemudian Lokal Hero Program Wisata dari Poleng Field Gresik, Sutomo, serta Agung Dwi, Lokal Hero program Magot BSF dari Donggi Matindok Field Sulawesi Tengah.

Salah seorang narasumber yang juga sebagai palaku UMKM , dari Desa Sambiroto, Tatik mengungkapkan, jika batik telah menjadi budaya di Indonesia, termasuk di desanya, yakni Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, sehingga dirinya harus terus berekreasi.

“Daun Sambiloto memang banyak manfaat, selain obat-obatan, kami juga ingin mengembangkan daun itu sebagai kreasi batik, dimana selain mengenalkan desa saya, yaitu Desa Sambiroto, daun Sambiloto juga kita gunakan sebagai bahan batik sebagai produk lokal yang bisa digunakan untuk menambah pemasukan dari sektor ekonomi bagi warga sekitar,” ungkap Tatik saat memberikan paparan dihadapan ratusan awak media, Senin (3/6/2024).

Perempuan yang juga sebagai guru salah satu TK di desanya tersebut menyatakan bahwa, keberhasilannya dalam memproduksi sekaligus memasarkan produk batik Daun Sambiloto tersebut tidak dilakukan secara taktis, akan tetapi dirinya juga mendapatkan support dari PT Pertamina, mulai dari pendampingan, pemasaran serta bantuan alat membatik.

“Dulu usaha ini hampir mati suri. Tapi pada 2021 lalu, kami mendapatkan keajaiban, dimana kelompok membatik kita menerima bantuan dan pendamping dari Pertamina, sehingga batik Sambiloto bisa berkembang hingga saat ini,” terangnya.

Meski dulunya, karya seni buatannya hanya dipasarkan secara dor to dor, kini batik Sambiloto dari kelompok batiknya telah dikenal, tidak hanya di lokal Bojonegoro, namun juga telah banyak dipesan dari kabupaten lain. Bahkan pengembangan seni batik tulis dan cap asal Desa Sambiroto itu pernah dipasarkan ke luar negeri. Yaitu Aljazair.

“Selain dipasarkan dari pintu ke pintu, sekarang juga kami mempromosikan batik Sambiloto melalui media sosial. Alhamdulillah, berkat support dari Pertamina, kini batik kreasi rumah batik Desa Sambiroto bisa membantu perekonomian warga,” jelas wanita berusia 50 tahun ini.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Doudo, Sutomo yang juga sebagai Lokal Hero Program Wisata Desa dari Poleng Field Gresik mengemukakan keberhasilannya dalam membangun desa yang dulunya disebut sebagai desa tertinggal. Akan tetapi, sejak adanya perusahaan plat merah di wilayah tersebut, mampu menjadikan Desa Doudo berhasil menyabet berbagai penghargaan sebagai desa inovatif.

“Dulu, Desa Doudo merupakan desa yang kering kerontang dan sulit air. Bahkan beberapa warga yang kondisinya mampu harus beli air seharga 170.000 ribu per tangki. Tidak sedikit masyarakat yang terpaksa mencari air bersih ke desa tetangga untuk kebutuhan sehari-hari,” terang Sutomo.

Kondisi itu membuat Sutomo berfikir keras dan tercetus untuk membuat telaga, namun hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Telaga yang digadang mampu memberikan suplai air tidak optimal. Pada 2006, Sutomo kembali membangun sumur bor bor pada 2008. Alhasil, dirinya berhasil merubah pola hidup warganya dapat berperilaku hidup sehat yang disokong oleh kemudahan dalam mendapatkan air bersih.

Aksi perilaku hidup sehat dengan gerakan cuci tangan dengan sabun menjadi gaya hidup masyarakat setempat, termasuk menggandeng para pemuda dalam pengelolaan lingkungan, hal itu berdampak positif hingga membawa Desa Doudo meraih gelar desa be as buang air besar sembarangan pada 2014 silam.

Agar dapat terus eksis, Kades Sutomo terus berinovasi dan menggagas program Kampung Aloevera, Kampung 3 R, Kampung Sayur, Kampung e-Link hingga Kampung si Cantik Cerdas pada periode 2015 sampai dengan 2018, yang akhirnya membawa Desa Doudo mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak hingga syarat prestasi.

Kehadiran PT Pertamina EP Poleng Field tidak dilepaskan oleh Kades inovatif tersebut untuk mendapatkan dukungan. Hasilnya, perusahaan milik negara tersebut mendorong Desa Doudo sebagai desa wisata berbasis lingkungan dan pendidikan. Melalui berbagai pelatihan yang intens, berhasil membawa Desa Doudo menerima ratusan penghargaan dari berbagai instansi, baik dari tingkat Kabupaten, Provinsi hingga merambah di tingkat Nasional.

Saat ini, Desa Doudo memiliki wisata Telaga Rena, dimana telaga tersebut telah ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, lantaran dijadikan sebagai wisata edukasi bagi anak-anak. Seperti menanam dan memanen sayur dan buah, hingga membuat pupuk sendiri. Selain itu memiliki nuansa yang indah, di wisata tersebut juga terdapat fasilitas bebek kayuh, flying fox, juga beberapa fasilitas lain.

“Adanya support dan pendampingan dari Pertamina jelas sangat membantu perkembangan di Desa Doudo. Saat ini sudah ada Pokdarwis, pengelolaan BUMDes yang baik, infrastruktur yang baik, serta dibentuknya kelompok-kelompok pemuda kreatif bisa membentuk kampung tematik sesuai arahan Pertamina. Ini sangat berdampak bagi kesejahteraan masyarakat. Hadirnya Pertamina mampu merubah semuanya, termasuk peningkatan ekonomi warga Desa Doudo,” pungkasnya. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS