TUBAN – Stasiun Meteorologi BMKG Kelas III Kabupaten Tuban menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Siaga El Nino: Informasi BMKG untuk Antisipasi Kekeringan dan Karhutla”. Forum strategis ini diselenggarakan sebagai langkah krusial untuk menyelaraskan persepsi dan tindakan antar instansi dalam menghadapi dampak kemarau ekstrem di wilayah Bumi Wali.
Kegiatan FGD yang berlangsung secara interaktif tersebut menghadirkan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sebagai narasumber, hingga perwakilan instansi pengelola kawasan hutan dan industri di daerah lokal guna mendistribusikan terkait penanganan kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Kepala Stasiun BMKG Kelas III Kabupaten Tuban, Muchammad Nur mengungkapkan, penyelenggaraan FGD ini bertujuan memberikan gambaran saintifik mengenai kondisi iklim terkini yang sedang melanda wilayah Bumi Ronggolawe akibat fenomena El Nino berkekuatan cukup signifikan.
Nur menjelaskan bahwa dampak El Nino telah menyebabkan nihilnya curah hujan di Kabupaten dengan 20 kecamatan ini selama lebih dari dua bulan berturut-turut. Kondisi ini memicu kekeringan tajam pada lahan pertanian serta kawasan hutan jati yang mendominasi wilayah Tuban.
Dalam pemaparannya, BMKG memperkenalkan integrasi pemanfaatan teknologi aplikasi Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) dengan sistem pemantauan titik panas (hotspot). Penggabungan ini memungkinkan petugas mendeteksi potensi Karhutla secara real-time hingga ketebalan lapisan bahan bakar organik di permukaan tanah.
Melalui data akurat tersebut, Nur mewanti-wanti seluruh pemangku kepentingan agar mengimbau masyarakat tani dan warga sekitar kawasan hutan untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam waktu dekat.
“Kami mengimbau kalau ada tetangganya atau mungkin petani yang mau membakar lahan, jangan dibakar dulu. Percuma saja karena tidak akan ada hujan untuk waktu dekat ini, belum bisa dipakai untuk tanam,” tegas Nur.
Ia memaparkan bahwa hujan diprediksi mulai turun pada bulan November dengan intensitas terbatas. Namun secara teknis, musim hujan baru benar-benar memasuki Dasarian I dan II pada awal bulan Desember mendatang, dengan puncak musim hujan terjadi pada bulan Februari.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tuban, Sudarmaji menyampaikan apresiasi atas inisiatif BMKG dalam menggelar FGD ini. Menurutnya, forum diskusi ini sangat berharga untuk membahas langkah taktis pengulangan bencana kekeringan.
“Tentu ini menjadi sesuatu yang sangat berharga buat kami, terutama adalah mengantisipasi musim kemarau yang nantinya diprediksi cukup panjang dan kering. Dan hari ini dibahas tentang bagaimana cara antisipasinya,” ungkap Sudarmaji usai FGD selesai.
Ia menegaskan bahwa hasil diskusi dalam FGD ini akan langsung ditindaklanjuti BPBD untuk memperkuat koordinasi dengan instansi pengelola kawasan hutan di Kabupaten berjuluk Kota Legen ini.
“Nantinya usai FGD ini kita akan membentuk tim terpadu agar upaya mitigasi dan pencegahan Karhutla ini lebih diutamakan,” pungkas Sudarmaji. (Hus/Tgb).
