– Progres Pembangunan Kampung Baru bagi warga terdampak Proyek Kilang Minyak Grass Root Refinery (GRR) Tuban memasuki tahap pengadaan fasilitas umum (Fasum) ditengah proses Groundbreaking lahan yang masih terus berlangsung.

Sebelumnya, telah menyiapkan lahan seluas 20 hektar diarea perhutani yang berada di Dusun Jati Mulya, Desa Sumurgeneng, Kecamatan , Kabupaten Tuban. Rencananya akan dibangun sekitar 50 hunian bagi warga Wadung yang bersedia dipindahkan oleh Pertamina. Disamping itu juga Fasum seperti tempat ibadah, kantor pemerintahan dan sarana prasarana lain.

Dalam pengerjaanya, Pertamina melalui anak cucunya, PT Patra Badak Arun Solusi (PBAS) menggandeng 3 Kontraktor lokal di bawah naungan Koperasi milik warga terdampak relokasi yang diberi Nama Koperasi Warga Jati Mulya (KWJM).

Ketua KWJM Sukandar Menyebut Pembangunan pemukiman baru sudah dimulai sejak pertengahan bulan Februari lalu dengan melibatkan warga lokal, diantaranya mereka yang tidak diterima dalam pekerjaan proyek di kilang minyak karena faktor usia.

“Secara keseluruhan ada sekitar 70 warga terdampak yang kita berdayakan, 17 diantaranya sudah berusia lanjut yang dulunya berprofesi sebagai buruh tani,” ungkap Sukandar kepada , Minggu (20/3/2022).

Mereka yang berusia diatas 55 tahun, menurut Sukandar ditempatkan sebagai tenaga penunjang dengan kegiatan yang terbilang ringan, seperti mengatur lalu lintas saat armada keluar masuk dan diberikan tugas untuk pemasangan banner maupun papan diarea proyek.

“Pekerjaan tambahan bagi mereka yang sudah tua merupakan kebijakan Koperasi, bukan Pertamina, karena kasihan mereka tidak lagi punya penghasilan setelah lahan pertanian disitu sudah alih fungsi,” sambungnya.

Dibentuknya KWJM, Sukandar menyampaikan bertujuan untuk mensejahterakan anggota serta warga lokal. Adapun total anggota KWJT sebanyak 50 orang yang semuanya merupakan warga Desa Wadung yang lahannya tergusur oleh Proyek Strategis Negara (PSN) .

“Sesuai visi dan misi Koperasi yakni memberikan kesejahteraan bagi anggota, nantinya 5 persen dari keuntungan juga disisihkan kepada warga yang tidak terdampak,” ujarnya.

Sementara itu, Warsidi (60) warga Wadung merasa bersyukur setelah diminta oleh KWJM untuk bekerja di proyek lahan relokasi, sebab ada penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Tentu sangat senang sekali, karena tenaga saya masih dibutuhkan. Semoga kedepannya juga demikian,” ucap Warsidi dengan wajah sumringah.

Semenjak lahan pertanian di desanya dikuasai oleh perusahaan raksasa patungan antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor minyak dan gas bumi, yakni PT Pertamina (Persero) dengan Rosneft asal Rusia ini, Warsidi yang sudah berusia senja mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan seperti yang dulu dijalani dengan menggantungkan nasib sebagai buruh tani.

Bahkan beberapa kali ia coba meminta pekerjaan di proyek kilang dengan nilai US$ 225 miliar dan ditargetkan mampu mengolah minyak mentah sebesar 300 ribu barel per hari ini sekedar sebagai tenaga kasar, namun upayanya selalu di tolak oleh pihak perusahaan yang sebelumnya pernah berjanji bakal mensejahterakan warga setempat.

“Karena sawah tetangga banyak yang dijual ke Pertamina, jadi sering sekali menganggur di rumah, karena memang tidak ada yang ngajak bekerja,” terangnya.

Sebagai informasi, Direktur Utama PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), Kadek Ambara Jaya sebelumnya menyatakan bahwa, perusahaan telah mengalokasikan 20 hektar lahan yang bakal dijadikan sebagai relokasi warga terdampak.

Sebanyak 63 Kepala Keluarga (KK) dari Dusun Tadahan, Dusun Boro, dan Dusun Ringin, Desa Wadung juga sebelumnya juga telah memilih melakukan relokasi mandiri dengan membeli tanah dan membangun rumah baru hasil pembayaran ganti rugi pembebasan lahan. Disusul sebanyak 50 hunian bekas hutan Jati Peteng sebagai kampung baru Jati Mulya, Desa Sumurgeneng.

Sebelumnya pada (23/1) lalu, ratusan pemuda dari paguyuban enam desa yang terdampak langsung proyek pembangunan PT PRPP berunjuk rasa. Mereka menuntut lapangan pekerjaan dan keterbukaan dalam proses rekrutmen.

Massa yang berasal dari desa Wadung, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Beji, dan Kaliuntu itu mengaku kecewa dengan cara Pertamina Rosneft dalam perekrutan security yang telah dilakukan oleh PT Pertamina Training and Consulting (PTC). Mereka menduga perekrutan itu tidak sesuai yang dijanjikan kepada tenaga kerja lokal.

Dalam aksinya, massa secara bergantian berorasi di depan pintu proyek Pertamina Rosneft. Para pemuda dari enam desa ini juga menyampaikan tuntutan di antaranya menolak vendor atau oknum di lingkup Pertamina yang tidak berpihak dengan tenaga kerja lokal yang terdampak pembangunan kilang minyak. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS