, () – Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tinggi.

Implementasi sistem ini berpedoman pada budidaya pertanian yang baik (good agricultural pratices). Dengan demikian, diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan dan keamanan pangan secara berkelanjutan.

Akan tetapi sejak diperkenalkan, belum ada peningkatan teknologi. Pengelolaan sumber daya pertanian masih fokus pada pengendalian OPT terpadu, penggunaan pestisida nabati atau kimia sintetik secara bijak, dan penggunaan bahan organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Sementara itu, metode persemaian masih menggunakan media yang tidak ramah lingkungan, seperti plasik rol, treysemai, pot semai NKT, dan bekas gelas air mineral.

Padahal metode persemaian dengan media tersebut memiliki berbagai dampak negatif, bekas media tanam yang ditinggalkan pada lahan pertanian menjadi residu bagi lingkungan.

Wadah persemaian berbahan plastik PP (polypropylene), PVC (polyvinil chloride), dan PET (polyethilene terephtalate) sulit terurai. Membutuhkan waktu sekitar 10 atau 1000 tahun lebih. Lamanya proses penguraian dapat memicu zat kimia yang berbahaya bagi biodata tanah maupun air.

Berangkat dari situ, UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur pada 2023 lalu akhirnya mengembangkan “Si Brow” Inovasi Media Tanam Brownies yaitu persemaian masa kini berbasis go green.

“Si Brow” ini terbuat dari tanah di bawah pohon bambu, pupuk organik, cocopeat (sabut kelapa), PGPR (plant growth promoting rhizobacteria), dan trichoderma.

Kombinasi dari bahan-bahan tersebut dapat mendukung pengembangan pertanian ramah lingkungan yang lebih efektif dan efesien.

Keunggulan inovasi ini, diantaranya mengandung bahan organik tinggi, agregat mantap dapat menopang bibit berdiri tegak, memiliki aerasi (porositas) yang baik sehingga memudahkan respirasi dan penetrasi akar.

Keunggulan lain, pergerakan air serta sirkulasi oksigen, tidak mengandung zat beracun dan tidak meninggalkan cemaran, biaya pemeliharaan lebih rendah, media bisa dipindah tanam 4 hari setelah semai (HSS).

Penulis: Amirul Idayani (Penyuluh Pertanian UPT PATPH Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS