– Masih ingat dengan puluhan pelajar yang mendapatkan beasiswa kuliah gratis dari Group kepada mahasiswa yang dicanangkan sebagai tenaga ahli bagi warga ring satu Kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Tahun ini, sebanyak 21 dari 47 pelajar Tuban penerima beasiswa Pertamina Group tahun ini memasuki tahap akhir di program studi D-III Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas di Cepu, Jawa Tengah.

Corporate Affairs Pertamina Yuli Wahyu Witantra mengatakan, para penerima beasiswa studi D-III di PEM Akamigas tidak perlu khawatir dengan masa depan mereka. Sebab, setelah mereka lulus bakal langsung diserap menjadi pekerja di proyek .

“Memang tujuan akhir program beasiswa tersebut adalah untuk memberdayakan anak muda potensial yang tinggal di sekitar lokasi proyek agar memiliki kecakapan untuk menjadi pekerja Pertamina Rosneft. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mengembangkan dan menyerap pekerja lokal,” ungkap Yuli Wahyu Witantra dalam keterangan resminya, (9/2/2022).

Yuli menyampaikan bahwa program beasiswa tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas warga di sekitar lokasi proyek agar menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di desa masing-masing. Hingga saat ini Pertamina Rosneft telah melibatkan 1.220 pekerja lokal dalam proses pembersihan lahan (land clearing) mulai dari tahap I sampai tahap IV.

“Tujuan hadirnya Kilang Pertamina-Rosneft ini memang untuk mensejahterakan masyarakat. Maka itu, ditahap awal sampai saat ini kami melibatkan tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Dilain pihak, Tin Khoirinnatul Musyarofah (22) salah seorang penerima beasiswa asal Desa Wadung mengaku, semula ia ingin mendaftar Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN). Opsi lain, dia ingin kuliah di jurusan farmasi. Namun adanya beasiswa dari Pertamina ini membuatnya tertarik dan memutuskan untuk mengambil beasiswa D-III Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas Cepu dari PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (Pertamina Rosneft).

“Awalnya, saya ingin kuliah S1. Saya ikut tes STAN dan SBMPTN untuk Jurusan Farmasi di Universitas Negeri Jember. Namun musibah menerpa, yang mengubah rencana studi saya sehingga saya mengambil D-III PEM Akamigas,” tutur Inna.

Raih Beasiswa Dari Pertamina, Ini Cita-cita Para Pelajar Ring Satu Kilang Tuban
Penyerahan secara simbolis beasiswa untuk kuliah gratis bagi mahasiswa Tuban pada Februari 2020 lalu

Inna sapaan akrab Tin Khoirinnatul Musyarofah menceritakan, pada tahun 2019 lalu, kakaknya meninggal dunia. Selepas kepergian sang kakak, Inna menjadi tumpuan harapan ayah dan ibunya yang bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan. Dia pun meninggalkan proses penerimaan mahasiswa di Universitas Negeri Jember, meski telah lolos SBMPTN dan bahkan sudah mendaftar ulang.

“Ketika dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa dari Pertamina, saya memilih mengambilnya karena saya berpikir sebagai anak satu-satunya, harapan orang tua tertumpu pada saya. Beasiswa ini bisa mengantarkan saya untuk mewujudkan mimpi membahagiakan orang tua,” tegas Inna.

Kini setelah dua tahun berjalan, Inna tak sabar untuk mendedikasikan ilmunya kepada Pertamina Rosneft selaku pemberi beasiswa, dengan bergabung menjadi pekerja di proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban.

“Jika nanti saya diterima, saya memiliki rencana menabung dengan menyisihkan gajinya untuk memberangkatkan haji orang tua saya yang usianya 50 tahun lebih,” harapnya.

Lain halnya dengan Budi Hermanto (21 tahun). Berangkat dari latar belakang keluarga buruh tani, warga Desa Mentoso ini sempat berpikir bahwa jenjang pendidikannya hanya akan berakhir di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Oleh karenanya ketika mendengar pendaftaran beasiswa D3 PEM Akamigas dari Pertamina Rosneft, dia melihat peluang untuk mengubah nasib diri dan keluarganya. Peluang itu dirasakan menjadi anugerah besar setelah namanya masuk ke daftar penerima beasiswa. Sebagai anak pertama di keluarganya, Budi mengerti bahwa dia akan menjadi tumpuan orang tuanya kelak. Kini setelah memasuki tahun terakhir pendidikan D3 PEM Akamigas, dia berharap kelak dapat berkontribusi banyak sebagai pekerja Pertamina Rosneft.

“Ketika diumumkan menerima beasiswa, saya sangat bersyukur. Jika diterima bekerja di , pastinya gaji akan saya gunakan untuk membahagiakan orang tua. Saya ingin berangkatkan haji orang tua, membuka usaha, dan bersedekah,” imbuhnya.

Sementara itu, Tedy Putra Pratama, penerima beasiswa asal Desa Rawasan termotivasi mengejar beasiswa demi membahagiakan orang tua. Terlahir dari ayah dan ibu yang bekerja sebagai kuli bangunan dan pedagang baju, pemuda berusia 21 tahun ini sangat ingin membahagiakan bapak-ibunya dengan cara sederhana, yakni memperbaiki rumah mereka yang masih beralaskan semen.

“Itu dulu, baru kemudian menabung untuk memberangkatkan orang-tua naik haji. Saya bersemangat mengambil beasiswa ini setelah mendengar nasihat Bapak. Beliau ingin saya bersungguh-sungguh, agar bisa menaikkan derajat orang tua. Anak dari seorang kuli yang bisa menjadi pekerja Pertamina,” terangnya.

Bagi Tedy, menjadi pekerja Pertamina memunculkan harapan akan masa depan yang lebih baik, yang menginspirasi rekan-rekan sebayanya untuk giat mencari ilmu dan mengejar peluang.

“Banyak anak di desa saya berpikir: ngapain kuliah kalau ujung-ujungnya jadi kuli. Dengan beasiswa ini, saya ingin membuktikan bahwa anak desa bisa kuliah dan jadi orang sukses!,” tutupnya.

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS