, () – Puluhan warga relokasi lahan yang kini menjadi Grass Root Refinery (GRR) di , mulai melakukan perubahan atau pindah domisili.

Kilang patungan antara PT dengan sebelumnya melakukan bedol dua desa, di antaranya Desa Wadung dan Sumurgeneng untuk pembangunan mega proyek Kilang Tuban dengan luas lahan kurang lebih 841 hektar pada 2019 hingga 2020 silam dan pada akhirnya dilakukan konsinyasi di Pengadilan Negeri Tuban pada awal 2021.

Pantauan di Kantor Kecamatan Jenu, terdapat sekitar 60 warga dari 35 Kepala Keluarga yang sebelumnya berdomisili di Dusun Boro, Dusun Tadahan dan Dusun Ringin, Desa Wadung, kini melakukan kepengurusan administrasi kependudukan dan pindah ke lahan relokasi yang dinamai Perumahan Warga Relokasi Jati Mulyo, Desa Sumurgeneng.

Kepada Ronggo.id, salah seorang warga Perumahan Warga Relokasi Jati Mulyo, Muhammad Yusuf (53) mengatakan, jika dirinya memang melakukan pengurusan pindah tempat di Kantor Kecamatan Jenu dan dilanjutkan ke Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Tuban.

“Dulu tinggalnya di Dusun Boro, Desa Wadung. Sekarang pindah ke Perumahan Warga Relokasi Jati Mulyo, ikut Desa Sumurgeneng,” ungkap Muhammad Yusuf saat ditemui di Kantor Kecamatan Jenu, Selasa (15/8/2023).

Yusuf menjelaskan, meski pembebasan lahan telah dilakukan pada 2020 lalu, namun dirinya bersama warga lainnya menempati rumah yang ada di perumahan tersebut sekitar satu tahun lalu lantaran baru selesai dibangun.

Ia mengungkapkan, jika masyarakat ditempat sebelumnya, yakni di Dusun Boro, Dusun Ringin, dan Dusun Tadahan, warga mampu mengandalkan pertanian sebagai pendapatan utama sembari bekerja menjadi tukang bangunan atau buruh pabrik.

“Kalau tempatnya sih sangat baik di sini. Tapi sekarang pekerjaannya yang agak sulit. Dan lahan pertanian juga susah sekarang,” terangnya.

Senada dengan Muhammad Yusuf, Juni (43), warga relokasi lain mengaku kesulitan mencari dan mendapatkan pekerjaan di lokasi yang ia tinggali bersama puluhan warga di Perumahan Warga Relokasi Jati Mulyo lainnya saat ini.

“Kalau disini sekarang mau kerja apa?, katanya dulu Kilang akan segera di bangun, tapi sampai sekarang tidak ada apa-apa dan perkembangannya sudah sejauh mana juga kami tidak tahu,” kata Juni saat dijumpai di

Perempuan berkacamata ini bersama warga lainnya berharap agar pihak Pertamina segera menciptakan peluang bagi warga terdampak pembebasan lahan untuk dapat memutar siklus perekonomiannya.

“Bagi mereka yang dapat hasil ganti rugi banyak sih mungkin tetap bisa bertahan. Tapi yang dapatnya hanya sedikit, cukup untuk beli tanah dan bangun rumah di lahan relokasi sudah habis bagaimana, kan kasihan juga,” pungkasnya.

Sebatas diketahui, pembebasan lahan untuk pembangunan proyek patungan antara PT Pertamina dengan Rosneft asal Rusia membutuhkan lahan seluas 841 hektar. Masing-masing lahan milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seluas 348 hektar, lahan Perhutani seluas 109 hektar, dan lahan warga 384 hektar.

Adapun dari total 1156 bidang yang harus dibebaskan, yang tersisa hanya tinggal 102 bidang. Antara lain, di Desa Wadung 18 bidang, dan Desa Sumurgeneng sebanyak 84 bidang, atau berkisar 50 hektar.

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS