Perempuan dan Kritik Terhadap Tradisi Politik Amerika Serikat

Perempuan dan Kritik Terhadap Tradisi Politik Amerika Serikat

Ilhan Omar merupakan politikus muslim perempuan yang akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan di berbagai belahan dunia. sebagian besar pemuda mahasiswa Indonesia mengapresiasi tekad perjuangan Ilhan Omar dalam menegakkan esensi nilai-nilai demokrasi. Anggota Partai Demokrat tersebut adalah perempuan muslim berhijab pertama yang terpilih menjadi anggota kongres Amerika Serikat.

Seolah-olah terinspirasi oleh Ilhan Omar, politikus berhijab di Amerika Serikat pun bermunculan. Contohnya, Movita Johnon Harrel, Rashida Tlaib dan Alexandria Ocasio-Cortez. Detik.com mengungkap bahwa keberadaan Ilhan Omar di kursi legislative dipandang sebagai salah satu strategi perlawanan terhadap isu Sara, isu kekerasan dan pencegahan penyalahgunaan senjata umum.

Selain itu, Omar juga mendorong perluasan kebijakan jaminan kesehatan, peningkatan pemeriksaan latar belakang pembelian senjata dan penghapusan badan Immigration and Customs Enforcement (ICE).Menjadi sesuatu yang dipertimbangkan dalam dunia politik menjadi ajang pembuktian Omar sebagai politikus berhijab.

Bacaan Lainnya

Faktanya, Omar berhasil meraih penghargaan sejarah. Sebelum terpilih menjadi anggota kongres, Omar dikelas sebagai aktivis dan menduduki jabatan Direktur Policy Initiatives dalam organisasi keperempuanan Woman Organizing Woman (WOW). Artinya, Omar dikenal aktif di beragam organisasi sejak sebelum memengkan kursi legislative. Sejak itu Omar dikenal sebagai penjunjung tinggi nilai-nilai keadilan berdasarkan sara dan komunitas lain-lain.

Langkah perjuangan tersbut diambil Omar setelah Presiden Trump mengatakan imigran Somalia sebagai penyebar pandangan ekstremis dalam dunia Islam (ISIS). Omar hadir dengan membawa amunisi perlawanan terhadap beberapa kebijakan Trump yang dianggap telah mencederai asas demokrasi.

Salah satu pusat analisis dan politik mengelompokkan Ilhan Omar kedalam politisi yang bertekad menggulingkan status quo. Dari semua penjelasan di atas terdapat analisis menarik yang menjelaskan adanya konflik antara Trump dan Omar merupakan rekayasa untuk memenangkan pemilu 2020.

Dalam hal ini, Trump diduga memainkan narasi anti imigran pada pemilu yang akan datang. Menurut penulis, narasi politik Trump memang diterima dan laku di pasaran. Secara umum rakyat Amerika Serikat mengamini dan mendukung salah satu ras dan mengesampingkan ras lain. Terlihat jelas ketika rakyat AS mengapresiasi pernyataan rasis Trump terhadap para imigran dengan berteriak keras bahwa mau tidak mau Trump harus “kirim kembali”.

Dengan demikian, penggunaan istilah rasis yang menimbulkan konflik merupakan strategi Trump memenangkan pemilu. Terlihat peryataan di atas telah didukung oleh Nasional Unversitas Quinnipiac yang telah merilis bahwa 50 persen warga AS mengatakan Trump tidak rasis, sedangkan 45 persen mengatakan rasis.

Alih-alih pernyataan Trump dianggap rasis dan berefek pada penggulingan kekuasaan, malah hasil survei menjelaskan semakin kokohnya kekuaasaan Trump menuju pemilu berikutnya. Walhasil, taktik kemenangan sudah dimulai sejak pernyataan Trump menjadi pro-kontra rakyat AS.

Bagi penulis, tindakan rasisme secara terang-terangan dengan berdalil dan berdalih apa pun merupakan bentuk kecacatan demokrasi. Terlebih ketika rasisme dijadikan senjata untuk mematikan karir politik lawan politiknya.

Sudah sewajarnya, sebagai sesama sebangsa dan sesama warga dunia saling menumbuhkan benih-benih kemanusiaan di atas segalanya. Karena itu lah hakikat perjuangan demokrasi yang sesungguhnya.

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS

Pos terkait