TUBAN – Pembangunan infrastruktur pariwisata yang digenjot Pemkab Tuban, ternyata mengindikasikan bakal mematikan obyek wisata yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di tingkat desa.
Efek domino dari program Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky itu, setidaknya telah dirasakan destinasi wisata Pokdarwis. Pembangunan yang lebih berfokus pada perbaikan taman ini mengakibatkan obyek Pokdarwis kelimpungan.
Pemkab Tuban melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPR-PRKP), dalam kurun dua tahun terakhir telah menggelontorkan puluhan miliar untuk memperbaiki infrastruktur publik. Seperti, Abhirama, GOR Rangga Jaya Anoraga, Alun-Alun Kota, dan Taman Abhipraya yang kelar serentak tahun 2024.
Infrastruktur itu merupakan tempat wahana gratis untuk masyarakat umum. Meskipun bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik, namun terkesan tak mengindahkan adanya tempat-tempat wisata yang dikelola Pokdarwis.
Sejumlah masyarakat yang mengunjungi Taman Abhipraya mengungkapkan, adanya taman-taman gratis seperti ini dapat menghemat uang saku saat berlibur. Mereka juga memilih berlibur di tempat-tempat gratis yang disediakan pemerintah karena lokasinya di tengah kota.
“Disini itu selain gratis, anak juga bisa bermain leluasa karena luas dan adem juga. Jadi ya bisa berhemat, Mas, apalagi keadaan ekonomi seperti sekarang ini,” ungkap Saripah saat ditemui di Taman Abhipraya.
Wisata gratis tersebut memiliki dampak terhadap wisata yang dikelola oleh Pokdarwis. Salah satunya, wisata Sendang Asmoro yang terletak di Desa Ngino, Kecamatan Semanding, Tuban. Obyek wisata itu kini sepi pengunjung.
Ketua Pokdarwis pengelola Sendang Asmoro, Hartomo, mengatakan pada tahun 2019 lalu penjualan tiket seharinya saja bisa mencapai Rp100 juta. Jika dihitung pertiketnya seharga Rp10 ribu, maka setidaknya ada 10 ribu pengunjung dihari tersebut. Kini kondisi tersebut sudah sangat berbeda.
Dari pantauan di lokasi pada hari Sabtu (3/5/2025) lalu, wisata tersebut sekarang jauh dari kata ramai. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang datang bersama anak-anaknya. Sejumlah wahana tampak sudah tak terawat akibat minimnya pengunjung.
Hartomo menjelaskan, obyek yang dikelolanya termasuk perintis wisata alam di daerah dengan 20 wilayah kecamatan ini. Tema edukasi dan wisata alam menyedot pengunjung berbondong-bondong datang. Kalau itu Sendang Asmoro pun menjadi primadona masyarakat untuk berlibur.
“Tidak hanya Sendang Asmoro tapi seluruh wisata yang ada di Kabupaten Tuban mengalami degradasi, karena mungkin Pemkab menjadi kompetitor kita,” ucap Hartomo saat dikonfirmasi.
Ia mengungkapkan, pembangunan taman-taman terbuka di kota tak hanya berdampak pada pariwisata yang di kelola Pokdarwis saja. Melainkan juga wisata yang di kelola pemerintah juga terkena imbasnya.
Ia menambahkan, di saat pandemi Covid-19 dulu wisatanya sempat mati suri. Wisata mampu bertahan karena tekat kuatnya komitmen Pokdarwis mengelola wisata alamya. Munculnya wisata gratis yang dibangun Pemkab semakin memperburuk keadaan.
“Dulu tahun 2019 bahkan parkiran tidak muat, tapi sekarang ya bisa dilihat kondisinya seperti sekarang ini,” ungkapnya dengan raut muka sedih, namun masih terlihat keoptimisan di matanya.
Senada diungkapkan Ketua Paguyuban Pokdarwis Kabupaten Tuban, Multazam. Ia mengatakan, menurunnya jumlah wisatawan di obyek yang dikelola Pokdarwis bukan hanya wisata gratis milik pemerintah saja. Faktor cuaca dan perekonomian yang tidak menentu, juga ikut andil dalam penurunan pengunjung.
“Sejak enam bulan lalu, pengunjung wisata turun 40 hingga 60 persen, Mas,” ungkap Multazam saat dihubungi melalui pesan whatsapp.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Tuban, Muhammad Emawan Putra, menuturkan seharusnya semua wisata yang dikelola Pemkab maupun swasta harus berinovasi agar dapat bergeliat kembali.
“Membangun pariwisata itu tidak bisa sendirian, beberapa elemen ada yang memerlukan masyarakat sekitar, media, pemerintah dan semuanya harus terlibat dan saling mendukung,” tambah Emawan.
Emawan menegaskan pihaknya akan segera melakukan koordinasi, bersama paguyuban Pokdarwis untuk membahas permasalahan tersebut. Pertemuan itu nantinya juga akan menjadi tempat menyaring keluhan-keluhannya.
“Pemerintah membangun Abhirama dan Abhipraya itu bukan untuk menjadi pesaing mereka, kami selalu support mereka,” pungkasnya. (Hus/Tgb).
