TUBAN – Kasus dugaan bullying menimpa seorang siswa SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban, AM. Perut anak Kelas X ini dipukuli sekitar 30 siswa kakak kelasnya sebelum memasuki asrama sekolah.
Usai perundungan menimpanya korban sering kali mengalami sakit perut dan dada. Walau demikian pihak sekolah menyatakan kasus tersebut telah clear, pihak keluarga siswa juga tidak mempermasalahkan.
Kasus perundungan tersebut muncul ke permukaan, setelah mantan kakak ipar AM yang berinisial B mendatangi sekolah adiknya. Ia meminta klarifikasi terjadinya bullying yang menimpa adik iparnya. Apalagi seteah kejadian tersebut bagian perut dan dada adiknya sering sakit.
“Saya coba minta kronologis kejadian ke pihak sekolah, tapi tidak diterangkan ke saya secara detail, banyak yang ditutup-tutupi,” ujarnya saat dikonfirmasi Ronggo.id, Senin (17/3/2025).
Sedangkan pihak sekolah saat dikonfirmasi langsung memanggil AM, untuk menjelaskan duduk permasalahan yang menimpanya. Di depan gurunya ia mengakui, memang telah mendapatkan tindakan pemukulan kepadanya pada awal masuk di asrama sekolah. Alasannya telah menjadi tradisi awal kedatangan siswa baru. Tradisi yang dimaksud yakni “Sangon” atau semacam memberi hadiah awal pertemuan.
“Tapi nggak sampai ada rasa sakit berkepanjangan kok, Mas, hanya pemukulan ringan saja,” ujarnya saat ditemui di sekolahnya sesaat setelah mengerjakan ujian susulan, Selasa (18/3/2025).
Ia juga menyatakan, jika B (yang klarifikasi ke sekolah) merupakan mantan suami kakak perempuan pertamanya. Saat ini sudah tak ada hubungan apapun dengan keluarganya.
Sedangkan kakak kandung korban, IS menegaskan kasus yang menyangkut adiknya tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Saat ini keluarganya juga tak menuntut apapun terhadap kejadian yang menimpa AM tersebut.
“Jadi masalah itu sudah damai tak perlu ada pembahasan lagi dari pihak keluarga juga sudah clear, jadi nggak perlu diungkit-ungkit lagi,” tambahnya.
Dengan nada tinggi ia menegaskan, B bukanlah anggota keluarganya lagi. Ia akui B awalnya mendapatkan informasi kurang valid dari mantan istrinya. Hal itu menyebabkan terjadinya salah paham.
“Saya pertegas lagi, Mas, B ini sudah tidak ada hubungannya lagi dengan pihak keluarga kami, dan masalah itu sudah clear, dan juga tanda tangan di atas materai,” tegas IS.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban, Mufid Tohari, tak menyanggah jika telah terjadi pemukulan yang dilakukan oleh beberapa siswa terhadap AM. Hal tersebut menurutnya efek dari bercanda yang berlebihan oleh anak pada usia tersebut.
“Kasus tersebut sudah selesai, dari pihak keluarga korban dan pelaku sudah kita pertemukan, dan sudah kita selesaikan secara kekeluargaan, keluarga korban juga tak memperpanjang hal itu,” tegasnya saat ditemui di kantornya.
Walaupun begitu Mufid menyatakan, tidak benar jika perundungan yang menimpa AM dilakukan oleh 30 siswa kakak kelasnya. Ia menjelaskan jika aksi nakal para siswa-siswanya itu hanya dilakukan oleh beberapa siswa yang merupakan kakak tingkat dari korban.
“Kejadian ini merupakan pembelajaran bagi kami agar dapat memberikan pembelajaran yang terbaik kepada para peserta didik,” pungkasnya. (Hus/Tgb).
