, (Ronggo.id) – Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Tuban mengungkapkan pemicu harga obat di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan negera tetangga, Malaysia.

Bendahara 2 Organisasi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Tuban, Elvira Jasmine Aulia Purnomo menyebut, berdasarkan data yang dihimpun, mahalnya harga obat ini lantaran sebagian besar bahan baku obat didatangkan dari luar negeri.

“Sebanyak 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih berasal dari luar negeri,” ucapnya, Rabu (3/7/2024).

Selain itu, data dari Kementerian Kesehatan mencatat, sebanyak 3 persen dari 1.809 obat yang ditransaksikan pada e-katalog belum dapat diproduksi dalam negeri.

Pemicu lain, karena rantai distribusi terlalu panjang. Selama ini obat dari industri sebagai produsen harus melalui Pedagang Besar Farmasi sebagai distributor.

“Dari distributor lalu ke apotek sebagai penjual ritel, sebelum akhirnya sampai ke pasien atau konsumen,” sambung Elvira.

Elvira berharap pemerintah segera mencari solusi agar harga obat bisa lebih terjangkau, salah satunya dengan memperkuat industri kimia dalam rangka memperkuat ketahanan industri farmasi di Indonesia.

“Dengan begitu, diharapkan produksi obat dalam negeri dapat meningkat, sehingga harganya bisa lebih murah,” imbuhnya.

Elvira menilai, pemerintah juga perlu membuat aturan mengenai keuntungan yang diberikan oleh produsen kepada distributor. Langkah ini sebagai solusi pengendalian harga obat.

“Perlu adanya regulasi yang jelas mengenai margin keuntungan untuk distributor. Dengan begitu, harga obat bisa lebih terkendali,” tutupnya. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS