, () – Pamor Pasar Sore dan Kedatom Tuban yang berada di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan/Kabupaten Tuban semakin hari kian redup. Salah satu faktornya karena tumbuh suburnya toko modern serta toko berbasis online.

Pasar yang pernah berjaya pada masanya itu, selain ditinggal oleh pelanggannya, kini puluhan kios juga ditinggal oleh penghuninya. Bahkan beberapa bangunan kios terpantau rusak.

Siti Masitah (49), salah seorang pedagang Pasar Sore asal Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Palang mengatakan, sepinya pasar sudah terjadi sejak hantaman gelombang Covid-19.

“Mulai adanya corona hingga tahun 2022 hampir tidak ada pemasukan. Awal 2023 juga masih hancur,” katanya.

Perempuan yang sudah berjualan sejak 1986 itu menyebut, omset penjualan paling ramai saat ini berkisar antara Rp200 ribu sampai dengan Rp300 ribu per hari, terkadang ia pun harus pulang dengan tangan hampa karena tidak ada pembeli.

Padahal, lanjut dia, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Belum lagi biaya untuk hak pakai kios sebesar Rp100 per bulan, biaya kebersihan Rp5 ribu, serta biaya pagar kurang lebih nilainya Rp20 ribu.

“Tentu kami sebagai pedagang berharap bagaimana caranya pemerintah bisa memulihkan Pasar Sore ini agar kembali ramai seperti dulu,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator UPTD Pasar Sore dan Kedatom Tuban, Chudhori mengungkapkan, dari 115 kios hanya ada sekitar 20 kios yang masih aktif beroperasi. Sebagian memang sengaja ditutup oleh penghuninya lantaran kondisi pasar sepi.

“Sekarang ini pengaruh yang paling besar karena pedagang online dan swalayan-swalayan. Kemudian ada Car Free Night dan Car Free Day,” ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya sering kali menghimbau kepada para pedagang agar tetap beraktivitas seperti biasa, namun justru pedagang itu sendiri yang masih enggan untuk membuka lapaknya dengan alasan takut barang dagangannya tak laku.

Untuk mencapai PAD dari retribusi hak pakai kios, sambung dia, tak jarang pihaknya harus menempuh puluhan kilometer dengan tujuan mendatangi rumah dari para pedagang, misalnya di Kecamatan Jatirogo dan Widang.

“Kita kadang jemput bola kesana. Kalau tidak begitu target PAD kita nggak nyampek,” bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Tuban, Agus Wijaya saat disinggung apakah kedepan ada terobosan agar pasar yang bersebelahan dengan Pantai Boom itu kembali bergeliat, ia menyebut jika dalam proses.

“Iya dalam proses,” ujar mantan Camat Montong itu singkat. (Ibn/Jun).

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS