, () – bersama PT Mega Gloryoung Internasional (MGI) baru saja gelar seminar kesehatan mata di Aula Hotel Basuki Rahmat dengan tema Gerakan Donasi Sejuta Frame Kacamata Medis Gratis. Sabtu (15/6/2024).

Seminar ini bertujuan untuk memberikan edukasi seputar bahaya glaukoma, serta pemberian kacamata gratis bagi penderita glaukoma dan mata minus bagi anak-anak usia di bawah 16 tahun.

Bagian Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Dinsos P3A dan PMD Tuban, Titin, telah menyediakan tim pemeriksaan mata gratis bagi anak-anak dan menemukan banyak sekali anak-anak penderita mata minus yang tinggi. 

Perempuan yang juga selaku Duta Kacamata Gratis PT. MGI, mengatakan, beberapa kali agenda pemeriksaan mata gratis melalui kerjasama dengan salah satu optik, menemukan sejumlah anak dengan mata minus di atas 10. Bahkan, paling tinggi telah ditemukan beberapa anak yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) menderita mata -32.

“Saya jadi duta sejak November 2023, itu saya bergerak sendiri. Buat acara sendiri sampai menemukan anak-anak yang memiliki gejala mata minus tinggi. Padahal anak-anak SMP yang berhak menerima kacamata ini seharusnya ada 16 anak. Tapi ternyata mereka tidak datang,” kata Titin.

Dalam pembagian kacamata gratis bagi penderita glaukoma, diwajibkan ada surat atau bukti diagnosa hasil pemeriksaan dari dokter spesialis mata. Sementara, bagi penderita mata minus, akan dibagikan hanya untuk usia di bawah 16 tahun dan telah menderita mata minus di atas 5.

Menurut pembicara sekaligus Duta Kacamata Gratis asal Kabupaten Ponorogo, Edy susanto, penggunaan kacamata secara umum belum tentu membantu menunjang kesehatan mata. 

“Mata yang memakai kaca mata minus itu bukan menolong, hanya memperjelas. Ketika minus bertambah, maka mata akan mengikuti lensa, jadi bukan mengurangi atau menghilangkan minus,” kata Edy.

Lanjut Edy, kerusakan saraf yang menghubungkan mata ke otak atau glaukoma merupakan penyakit mata yang mematikan nomor 2 di Indonesia, sesudah katarak. Bahkan, Edy pernah menemukan, anak usia 4 tahun asal Ponorogo menderita glaukoma.

“Glaukoma ini memang salah satu penyakit mata yang belum ada obatnya untuk menyembuhkan secara total. Bahkan, sampai detik ini belum ada dokter atau tenaga medis yang bisa riset hingga menerbitkan jurnal tentang glaukoma. Padahal penyakitnya sudah ada sejak dulu, jadi ini bahaya sekali,” pungkasnya.

Ada pula, pembicara sekaligus Duta Kacamata Gratis dari kota yang sama, Agung Prasetyo, menegaskan, rendahnya kesadaran warga Bumi Wali terhadap kesehatan mata, terutama penderita katarak, glaukoma, dan mata minus pada anak-anak.

“Di Tuban ini masih banyak orang yang belum paham akan pentingnya menjaga kesehatan mata. Acara ini menginformasikan tentang bahaya glukoma dan mata minus yang diderita oleh anak-anak usia di bawah 16 tahun. Jadi kita sama-sama menjaga mereka dari kebutaan,” kata Agung.

Lanjut Agung, adapun kacamata medis gratis yang didonasikan dari PT. MGI sudah berjalan sejak 2017. Kacamata tersebut bukan sebagai solusi pengobatan, namun hanya salah satu bentuk upaya untuk mengurangi gejala yang ada pada mata.

“Ini salah satu bentuk usaha penyembuhan, seperti di Kabupaten Ponorogo sendiri sudah banyak anak-anak yang menderita mata minus tinggi telah terbantu. Kami bergerak sudah hampir 7 tahun ini, bahkan saat Covid-19 kita masih bergerak untuk donasi kacamata,” tandasnya.

Seperti halnya beberapa penderita glaukoma yang sudah menerima donasi kacamata medis gratis ini, telah menunjukkan penurunan gejala yang diderita. Termasuk anak-anak penderita mata minus juga menggunakan kacamata ini secara rutin hingga dinyatakan nol minus atau mata sehat. (AN/Jun). 

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS