TUBAN – Wisata Sendang Gemuntur (WSG) di Desa Senori, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban yang seharusnya menjadi tempat wahana bermain air yang asyik, saat ini justru terlihat seperti tempat mistis yang cocok untuk uji nyali. Destinasi ini telah lama terbengkalai tak terawat.

Obyek ini dibangun sebagai satu-satunya objek wisata yang bakal menjadi primadona masyarakat sekitar. Selain itu digadang-gadang dapat meningkatkan perekonomian warga.

Informasi yang dihimpun menyatakan, pembangunan obyek wisata tersebut pada tahap awal disuntik dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) sebesar Rp205 juta, dan dana dari Alokasi Dana Desa (ADD) Senori sebesar Rp240 juta.

Dana CSR perusahaan tersebut digelontorkan bukan hanya sekali, melainkan hingga tiga kali dengan nilai hampir sama dengan dana awal di tahun 2022. Jika dikalkulasi jumlah dana CRR yang disalurkan pabrik semen berstatus BUMN sekitar Rp615 juta.

Begitu rampung pembangunannya, obyek andalan itu diresmikan tahun 2023 dengan dimeriahkan Festival Tongklek, dan sholawatan yang diikuti oleh antusiasme masyarakat yang besar. Belum lama berselang malah tutup bahkan mangkrak.

Sebelumnya di tengah sendang terdapat jembatan bambu yang melintang. Saat ini fasilitas tersebut tak nampak lagi sisanya. Bangunan kios-kios untuk menjajakan jajanan di sekitar lokasi wisata, juga ikut lenyap tak tau kemana.

Warga yang tak mau disebut namanya mengatakan, pembangunan wisata tersebut seperti terkesan sangat dipaksakan karena tak ada daya tarik tersendiri di lokasi itu. Hanya berupa sendang yang dulunya sering dimanfaatkan airnya oleh warga.

“Jika dilihat dari kondisinya sekarang dengan anggaran yang telah digelontorkan baik dari CSR maupun desa mestinya hasilnya bisa maksimal, tak seperti ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi sendang, Rabu (9/4/2025).

Warga menyebut, jika ditelusuri area wisata itu hanya sendangnya saja yang merupakan tanah milik desa. Sedangkan untuk lokasi parkir, dan tempat foodcourt merupakan lahan yang disewa oleh pengelolanya, untuk memperluas dan mempercantik obyek pelesiran tersebut.

“Ramainya hanya pada saat awal dibuka saja, Mas, setelah itu ya sudah tidak ada yang tertarik kesini,” ujar warga.

Kepala Desa Senori, Syaiful Munir, membenarkan jika wisata itu sudah mangkrak sejak awal tahun 2024 lalu. Mangkraknya itu disinyalir karena tak becusnya Pokdarwis pengelolanya.

“Kalau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) nya jalan, tapi saat setelah diserahkan Pokdarwis malah mangkrak,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Saat ditanyakan soal adanya dana dari Alokasi Dana Desa (ADD) yang digelontorkan untuk obyek wisata tersebut, Munir mengatakan, tak ada dana desa yang diberikan. Ia menyebut pembangunan wisata sendang, yang dulunya dimanfaatkan airnya oleh warga sekitar, itu hanya bersumber dari dana CSR saja.

“Peran desa dalam pengelolaan Wisata Sendang Gemuntur ini hanya sebagai pengawasan saja,” katanya.

Terkait sejumlah stand UMKM berupa kontener yang dulunya sebagai tempat jualan makanan, Munir mengatakan, perangkat tersebut sudah dialihfungsikan oleh BUMDes untuk bak sampah. Hal itu merupakan program yang digelontoran dari dana CSR perusahaan yang sama.

Munir tak tahu secara pasti soal total dana yang yang telah digelontorkan untuk pembangunan tempat wisata itu. Ia mengarahkan untuk bertanya kepada pihak BUMDes terkait tiga kali penggunaan dana CSR PT SIG.

“Sebelumnya wisata itu memang sudah didanai CSR dari PT SIG sebanyak tiga kali, dan sudah diserahterimakan juga ke pihak Pokdarwis, untuk lebih lengkapnya coba hubungi BUMDes, Mas,” tandas Munir.

Sementara itu, Ketua BUMDes Senori, Ahmad Ghoni Habibi saat dikonfirmasi pada Sabtu (12/4/2025) sekitar pukul 14.00 wib masih enggan untuk berkomentar mengenai masalah mangkraknya proyek tersebut.

Sedangkan Senior Manager of Communication & CSR PT SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, saat dikonfirmasi pada Senin (28/4/2025) sekitar pukul 11.30 wib tak memberikan respon apapun. Demikian juga Community Development Officer SIG Pabrik Tuban, Suhadak, saat dimintai konfirmasi juga tak memberikan keterangan apapun. (Hus/Tgb).