Beberapa Warga Dari Dua Desa Bersikukuh Tidak Menjual Tanahnya, Pembebasan Lahan Kilang Tuban Masih Berlangsung Alot

Beberapa Warga Dari Dua Desa Bersikukuh Tidak Menjual Tanahnya, Pembebasan Lahan Kilang Tuban Masih Berlangsung Alot
Kasi Bidang Hukum Pertanahan BPN Lalu Riyata saat pertemuan bersama warga di balai desa wadung (Foto: M. Said/Ronggo.id)

Ronggo.id – Pembebasan lahan untuk pembangunan Kilang Minyak PT Pertamina masih berlangsung alot. Pasalnya, beberapa warga dari dua desa, yakni Desa Wadung dan Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, masih ada yang bersikukuh dan tidak mau menjual tanah mereka.

Beberapa warga yang lahan pertaniannya masuk dalam penetapan lokasi (Penlok) Kilang Tuban, menerima surat undangan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tuban, untuk negosiasi pengukuran lahan. Namun warga masih keberatan dan menolak menjual tanah mereka kepada Pertamina.

Undangan pertemuan yang berlangsung di Balai Desa Wadung itu dihadiri oleh tim pembebasan lahan dari BPN Tuban tersebut belum mendapatkan hasil maksimal. Lantaran warga kompak menolak tawaran menyerahkan tanahnya untuk diukur. Kamis, (23/07/2020).

Bacaan Lainnya

Karni, salah satu warga pemilik lahan mengaku, jika sampai kapanpun, ia tidak akan menyerahkan tanahnya kepada Pertamina. Hal ini disebabkan, lahan pertanian yang saat ini dikelolanya saat ini dikelola olehnya mampu menopang kehidupannya, hingga anak cucunya kelak.

“Tanah ini adalah hak kami. Kami tidak ingin dan tidak mau menjual tanah kami, karena ini adalah bekal hidup anak cucu kami kedepan,” terang hajjah Karni panggilan akrabnya.

Perempuan paruh baya ini menjelaskan, sudah berulang kali dirinya mendapatkan bulian, iming-iming kesejahteraan, hingga intimidasi akibat memperjuangkan tanah yang ia dapatkan dari hasil keringatnya sendiri itu. Namun, hal tersebut tidak menggoyahkan niatnya untuk tetap mempertahankan aset yang menjadi mata pencaharian satu-satunya ini.

“Kami tidak mata duitan. Uang itu bisa saja habis, tapi tanah tidak akan habis. Jangan takut-takuti kami, karena sampai matipun, kami tidak akan menjual tanah kami,” tegasnya.

Ditempat yang sama, Kasi Hubungan Hukum Pertanahan BPN Tuban, Lalu Riyanta mengatakan, kilang minyak merupakan proyek strategis nasional. Untuk itu, pemerintah melalui BPN Tuban terus melakukan pendekatan dan sosialisasi agar warga dapat dengan sukarela dan setuju tanahnya diukur.

“Saat ini, kita lakukan pengukuran sedapatnya dulu, agar segera dinilai oleh tim appraisal. Dan hasilnya baru disampaikan ke masyarakat,” paparnya.

Dari total sekitar 1156 bidang tanah dari tiga desa, antara lain Desa Kaliuntu, Wadung, dan Sumurgeneng yang harus dibebaskan untuk pembangunan kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban, sekitar 102 bidang tanah yang belum terukur. Masing-masing 84 bidang di Desa Sumurgeneng, dan 18 bidang di Desa Wadung.

Jika warga masih keberatan dan tidak setuju pengadaan lahan tersebut, mekanisme selanjutnya akan diserahkan ke pengadilan. Setelah ada putusan dan masyarakat menerima, maka hasil tersebut sudah ingkrah. Namun, jika warga masih keberatan, mereka berhak mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).

“Apa yang diutarakan ibu-ibu tadi akan kita sampaikan ke pimpinan untuk dilakukan mekanisme selanjutnya. Namun, proyek ini harus tetap berjalan hingga ada putusan pengadilan,”

Ditempat terpisah, kuasa hukum warga Wadung dan Sumurgeneng, Suwarto Darmandi menegaskan bahwa, kilang minyak merupakan proyek strategis nasional, namun pembangunan itu bukan untuk kepentingan umum. Sehingga warga yang memiliki hak atas tanah tersebut tidak boleh dipaksa untuk menyerahkan lahannya kepada Pertamina.

Apabila dikemudian hari, BPN melakukan pengukuran lahan warga tanpa sepengetahuan pemiliknya atau secara sepihak, maka dapat dianggap telah terjadi penyerobotan tanah. Dan hal ini sudah masuk keranah pidana.

“Jika tiba-tiba BPN mengukur tanah warga secara diam-diam, maka ini bisa dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum, dan pasti akan kami gugat ke Pengadilan secara perdata,” pungkasnya.

Ikuti Berita dan Artikel terbaru Ronggo.id di GOOGLE NEWS

Pos terkait