TUBAN – Di tengah maraknya tren musik modern dan dinamika era digital, sekelompok pelajar di Kabupaten Tuban memilih jalur berkarya yang unik. Melalui grup musik bernama “Inlander”, lima remaja lintas sekolah merilis lagu bertajuk “Juang Pertiwi”, sebuah karya musikal yang menyuarakan refleksi kritis atas dinamika sosial dan isu-isu kemasyarakatan.

Grup musik ini diperkuat oleh Elena Melvin Khansa Zipi Almaghfira (SMAN 1 Tuban) dan Saskiea Evaneisa (SMAN 3 Tuban) pada vokal, Mardiana Adinda (SMAN 3 Tuban) pada gitar, Rama Saputra (SMAN 2 Tuban), serta Aditya Pragita Putra (SMKN 1 Tuban). Lewat “Juang Pertiwi”, mereka menghadirkan narasi yang tidak sekadar berfokus pada aransemen nada, melainkan pesan moral tentang kepekaan sosial.

Gitaris Inlander, Mardiana Adinda, menyampaikan bahwa karya ini diharapkan mampu menjadi pengingat bersama akan pentingnya kepekaan terhadap dampak setiap kebijakan publik bagi masyarakat.

“Kami ingin lagu ini menjadi refleksi bersama, agar tidak ada keputusan yang justru merugikan atau menyengsarakan masyarakat,” ujar siswi yang akrab disapa Adin ini saat ditemui Ronggo.id, Sabtu (10/10/2026).

Pondasi terbentuknya grup Inlander beserta lahirnya lagu “Juang Pertiwi” berawal dari kebersamaan mereka saat masih menimba ilmu di SMP Negeri 5 Tuban. Lirik lagu tersebut dirancang oleh guru mereka, Hikho Wasa, yang mendorong agar aktivitas seni di sekolah tidak hanya berfungsi sebagai hiburan visual, tetapi juga sarana melatih kepedulian sosial siswa.

Sebelum meluncurkan karya ini, para personil Inlander juga aktif dalam kegiatan seni teatrikal sekolah dan sempat mencatatkan prestasi sebagai Juara pada ajang seni daerah di Kota Legen ini sejak 2024.

Meski kini para anggotanya telah melanjutkan pendidikan di SMA dan SMK yang berbeda di Bumi Ronggolawe, semangat mereka untuk terus berkarya tidak surut. Walau diakui Adin, mencocokkan jadwal latihan bersama menjadi tantangan tersendiri.

“Mengumpulkan teman-teman sekarang jauh lebih sulit karena sekolahnya sudah beda-beda. Kami harus pintar-pintar mencuri waktu di tengah kepadatan jadwal masing-masing, baik untuk latihan maupun proses pembuatan video klip,” jelasnya.

Di sisi lain, Hikho Wasa mengapresiasi konsistensi para mantan anak didiknya yang tetap membawa nilai-nilai positif dan semangat belajar ke jenjang yang lebih tinggi.

“Saya bangga dengan anak-anak yang sukses membawakan lagu ini, baik secara nada maupun pembawaan visual yang terasa hidup,” ungkap Hikho.

Pesan reflektif dalam “Juang Pertiwi” dituangkan secara lugas dalam liriknya. Pada bagian verse, lagu ini mengajak pendengar merenungkan pentingnya menjaga nilai moral dan kebudayaan:
“Kemunafikan yang duduk mengangkang, injak budaya. Segala perjuangan yang digaungkan, terbungkam kuasa.”

Sementara pada bagian refrain, penegasan pesan tersebut kembali digelorakan:
“Adil dan nurani yang dilecehkan, merenggut kejujuran yang diasingkan. Suara rakyat dimarjinalkan, pekik merdeka jadi tangis duka.”

Peluncuran “Juang Pertiwi” menjadi bukti bahwa ruang kelas dan media ekspresi mampu membentuk generasi muda Tuban yang kreatif, peka terhadap lingkungan sekitar, serta mampu menyalurkan aspirasi secara santun melalui seni. (Hus/Tgb).