TUBAN Limbah cucian pasir kuarsa di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, kian meresahkan. Pendangkalan hebat yang terjadi di wilayah hilir sungai kini melumpuhkan aktivitas nelayan Desa Beji dan mengancam ketahanan pangan petani lokal akibat pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Aktivitas pembuangan limbah pencucian pasir kuarsa di area hilir memicu penyumbatan aliran sungai, yang berdampak pada terendamnya lahan pertanian di Desa Sekardadi, Kecamatan Jenu. Para petani setempat mengeluhkan kondisi ini karena sistem irigasi yang seharusnya mengairi sawah justru berbalik menjadi penyebab banjir akibat arus yang terhambat.

Pantauan disekitar area sawah pada Kamis (23/4/2026), menunjukkan air-air yang berada di sungai avur ataupun sungai utama nampak tak mengalir dengan baik. Air sungai tersebut nampak hanya menggenang saja, sehingga membuat sawah berhektar-hektar milik warga mudah terendam air saat hujan lebat melanda.

Aktivitas pembuangan limbah cucian kuarsa tersebut masih juga berlangsung hingga Rabu (29/4/2026) pagi. Nampak sungai disana berubah warna menjadi coklat kemerah-merahan. Bahkan laut disana juga berubah warna karena tercemar oleh limbah cucian yang dibuang langsung menuju sungai.

Salah satu petani asal Desa Sekardadi mengatakan kondisi itu dinilai sangat merugikan, terlebih mereka merasakan kebanjiran sudah sekitar enam tahun yang lalu. Padahal sawah di sekitar area tersebut tergolong cukup subur dan menjadi penopang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Aktivitas cucian kuarsa, Mas, yang membuat sungai dibagian hilir menjadi dangkal. Dulu juga sudah dibangungkan dam disekitar sini tetapi hasilnya tetap sama,” ucap salah satu petani saat di wawancarai sembari mengambil rumput di sekitar lahan miliknya.

Karena sawahnya yang sering terendam air, hal itu membuatnya harus berpikir keras agar dapurnya tetap mengepul. Dia memilih usaha ternak sapi dan memanfaatkan lahannya apabila memungkinkan untuk ditanami.

“Pihak desa juga seakan-akan tutup mata, Mas, dalam mengatasi permasalahan ini. Kasihan yang menggantungkan hidupnya hanya dari bertani,” tambahnya.

Ia berharap kepada pemerintah daerah maupun desa untuk tak tutup mata dari permasalahan tersebut. Selain itu, para pemilik cucian diharapkan bertanggungjawab terhadap kerusakan aliran sungai.

“Kami juga berharap adanya revitalisasi dibagian hilir sungai,” ucapnya.

Selain itu, beberapa nelayan asal Desa Beji yang sering menyandarkan perahunya di hilir sungai juga merasa terganggu dengan aktivitas pembuangan limbah cucian kuarsa tersebut. Menurut mereka, pendangkalan akibat limbah cucian tersebut mempersulit mereka menyandarkan perahu.

“Dulunya sungai ini masih jernih dan lebar sehingga mudah untuk menyandarkan perahu kami, tapi sekarang sungainya menjadi keruh dan sempit bahkan menjadi dangkal,” ujar salah satu nelayan yang berada di sekitar hilir sungai.

Upaya pengerukan yang pernah dilakukan oleh pemilik usaha terbukti tidak efektif dalam membendung sedimentasi akibat aktivitas yang berkelanjutan. Saat ini, tumpukan lumpur di bantaran sungai telah mencapai kedalaman setinggi mata kaki.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Jenu, Siswanto mengungkapkan pihaknya akan menindaklanjuti adanya keluhan yang disampaikan oleh petani dan nelayan di wilayah kerjanya. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pengecekan di lapangan langsung guna memastikan warga tidak terdampak semakin parah.

“Saat ini belum ada laporan masuk, cuma bukan berarti kami abai. Kami tetap akan pengecekan di lapangan,” pungkas pria yang juga menjabat sebagai Kabid Penegakan Perundang-Undangan Daerah (PPUD) Satpol PP dan Damkar Tuban ini. (Hus/Tgb).