TUBAN – Masyarakat Kabupaten Tuban seakan tak diberi napas lega. Belum usai persoalan kelangkaan gas elpiji dan mahalnya harga plastik, sampai warga harus ngelus dada lantaran kembali dihantam badai kenaikan harga minyak goreng subsidi yang kian tak terkendali, menyentuh angka Rp23 ribu per liter.
MinyakKita, yang digadang-gadang sebagai solusi minyak goreng murah bagi rakyat kecil, kini justru menjadi barang langka. Tak hanya sulit dicari, harganya di pasaran pun terpantau melonjak drastis melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Dari pantauan tim Ronggo.id di kedua pasar tersebut, mayoritas lapak pedagang menunjukkan pemandangan serupa. Hampir disemua warung nampak hanya tinggal satu dua buah saja, bahkan beberapa ada yang kosong.
Kondisi memperihatinkan ini terpantau di Pasar Pramuka dan Pasar Baru Tuban. Yono, salah seorang pedagang sembako di pasar setempat, mengeluhkan fluktuasi harga minyak subsidi yang menurutnya sudah tidak masuk akal dalam beberapa waktu terakhir.
Ia membeberkan, awalnya MinyakKita dibanderol pada kisaran Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per liter. Namun, saat ini harga di tingkat pengecer sudah menyentuh angka Rp 23.000 per liter.
“Katanya barang subsidi, tapi harganya naik terus. Sudah mahal begini, barangnya pun sulit didapat,” keluh Yono saat berbincang dengan media ini di lapaknya, Senin (6/4/2026).
Efek domino kenaikan ini ternyata tidak hanya berhenti pada minyak subsidi. Minyak goreng kemasan premium merek Sunco juga ikut merangkak naik. Ukuran 2 liter yang biasanya dijual Rp 38.000, kini meroket hingga Rp 45.000.
Yono menduga, kenaikan ini dipicu oleh mahalnya bahan baku plastik untuk kemasan di tingkat produsen. Kondisi tersebut memaksa pedagang di pasar tradisional ikut menyesuaikan harga agar tidak merugi.
Keresahan serupa juga dirasakan Khoirunnisa, pedagang di Pasar Baru Tuban. Ia menyebut tren kenaikan harga ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak menjelang bulan Ramadan lalu karena tingginya permintaan pasar.
Ironisnya, meski momen Lebaran telah usai, harga minyak goreng tak kunjung melandai. Sebaliknya, pasokan dari pihak supplier justru dipangkas secara signifikan, yang membuat stok di pasar kian menipis.
“Kami bisa mendapatkan jatah hingga 50 dus Minyak Kita dalam sekali kirim. Namun sekarang, jatah tersebut dipangkas tajam hingga tersisa hanya 15 dus saja,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pasar Baru Tuban, Sukadi berdalih bahwa distribusi minyak subsidi sebenarnya tetap berjalan, hanya saja mengalami keterlambatan pengiriman dalam beberapa hari terakhir. Ia juga menyebut kenaikan harga minyak non-subsidi hanya berkisar di angka seribu rupiah.
Terkait harga MinyakKita yang tembus Rp 23.000, Sukadi menegaskan bahwa lonjakan tersebut terjadi di luar jalur distribusi resmi yang diawasi pihaknya. Menurutnya, mitra Bulog masih tetap menjual sesuai aturan HET melalui sistem isi ulang bagi pedagang tertentu.
“Jadi harga yang naik itu bukan dari mitra Bulog kami, jalur distribusi resmi tetap terpantau,” tutupnya. (Hus/Tgb).
